Jumat, Agustus 22, 2008

CINTA....


Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis? Ketika kita tidur? Ketika kita membayangkan ?

Karena hal terindah di dunia tidaklah terlihat. Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CinTa...

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan. Tapi melepaskan bukan akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru.

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah dan tengah mencari dan mereka yang telah mencoba. Karena merekalah yang bisa menghargai betapa penting orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.


CinTa yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikan airmata dan masih peduli terhadapnya.

Adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia. (halah segitunya... hihi)

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata aku turut berbahagia untukmu..... (iya gitu.. yang ada mah nangis kale sambil guling guling.... hihihihihi....)

Apabila CinTa tidak bertemu, bebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi.

kamu mungkin menyadari bahwa kamu menemukan CinTa dan kehilangannya. Tetapi ketika CinTa itu mati...kamu tidak perlu mati bersama CinTa itu. Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya, melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh..... (sip lah satujuuuuuuu ........)

Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada. CinTa-mu akan tetap ada dihatinya sebagai penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup yang telah kamu buat....... (ooo.. so sweeet .....)

Teman sejati mengerti ketika kamu berkata "aku lupa".

Menunggu selamanya ketika kamu berkata "tunggu sebentar".

Tetap tinggal ketika kamu berkata tinggalkan aku sendiri dan...membuka pintu sebelum kamu mengetuk dan berkata "bolehkah aku masuk?"

Mencintai juga bukanlah bagaimana kamu melupakan dia jika dia berbuat salah, melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti.

Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasa.

Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu bertahan.

Lebih menyakitkan menangis dalam hati daripada menangis tersedu atau mengadu. Airmata yang keluar dapat dihapus, sementara airmata yang tersembunyi menggoreskan luka di hatimu Yang Tidak Akan Pernah Hilang. (waduh kok sampai bisa begitu cih.... hiks)

Sayang dalam CinTa, kita sangat jarang peduli. tetapi ketika CinTa itu tulus, meskipun kamu acuhkan CinTa tetap mulia dan kamu harusnya bahagia.

Hatimu dapat mencintai seseorang yang kamu sayang. Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang. Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskan.

Namun bila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia. Bila dia tidak membalasmu, barangkali dia tengah ragu dan mencari. Jangan percaya bahwa melepaskan berarti kamu benar-benar mencintai tanpa suatu balasan. Mengapa tak berjuang demi CinTa-mu??? Mungkin itulah CinTa Sejati-mu. (cinta sejati adakah ...?? cinta sejati bukanlah cinta kepada sesama makhluk tapi cinta sejati adalah cinta yang kita tujukan pada Sang Pencipta Cinta... setuju gaaaaaaaaaaa.................. ????)

Kadang kala orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah mengatakan CinTa kepadamu, karena dia takut kamu berpaling dan memberi jarak. Dan bila suatu saat dia pergi kamu akan menyadari ia adalah CinTa yang tidak kamu sadari. Maka mengapa kamu tak mengungkapkan CinTa-mu. Bila kamu memang mencintainya meskipun kamu tak tau apakah CinTa itu ada juga padanya? ... *****

renungan :

hmmm... ya rasa itu baru kita sadari ketika dia pergi ..... tapi yakinlah Cinta Allah tidak akan pergi dan menjauh dari kita.... cinta Sejati bukan cinta kepada sesama Makhluk tapi cinta Sejati adalah cinta kepada Sang Pencipta Cinta..... cinta itu akan tetap abadi bersemayam didalam hati...menempati ruang tersendiri dihati..... tidak akan menangis perih kecuali menangis rindu akan keabadian cinta yang suci..... :)

aku ragu akan ada dan tiadaku

tapi cinta membacakan maklumatnya

bahwa ternyata aku ada ! ....

*****sumber : dari salah satu artikel di link


HUMOR SEGAR DALAM PERNIKAHAN


Dalam sebuah diskusi panel terbatas yang menyertai bedah Buku Mars and Venus Together Forever karya John Gray,Ph.D, banyak berbicara persoalan komunikasi dalam keluarga. ketika muncul pertanyaan : sudahkah kalian (para suami) terbiasa mengucapkan kata cinta di hadapan istri ? jawaban hampir sebagian besar peserta adalah belum, untuk tidak mengatakan tidak. hmmm.... mereka menyatakan bahwa terlalu berat mengungkapkan kata " CINTA" pada istri istri mereka...... (hmm.... kenapa ya......)
"Kita harus membiasakan. sebab, istri kita sangat perhatian pada proses komunikasi," Kata seorang ustadz. Memang, kebanyakan orang membangun hubungan suami-istri lebih banyak bersikap mekanik. teman saya lalu angkat bicara," Tidak sekedar terbiasa mengungkapkan kata cinta, tetapi juga pandai melempar humor humor segar." ..... hmmm... saya berpikir... humor - humor segar ? sangat jarang.... karena mereka terbelenggu oleh rutininas kerja.... hummmm.....
Humor ? ya, humor. mengungkapkan cinta jelas kita perlukan, tetapi menghiasi rasa cinta dan sayang kita pada istri dengan humor humor segar akan menciptakan suasana rumah tangga kita lebih teduh. seringkali persoalan ini terabaikan, sebagaimana terabaikannya ekspresi untuk mengungkapkan cinta pada suami atau istri kita. bukankah tabiat jiwa selalu ingin istirahat dari kepenatan - kepenatan. berhenti sejenak, menurut Ustadz Abu Ridha, dan salah satu yang dapat dilakukan pasangan suami istri adalah melempar humor humor renyah.... ups.. asal jangan saling lempar piring .... :)
Kehidupan keluarga, yang tidak mungkin absen dari masalah, menghajatkan kita untuk menghiasinya dengan sedikit jeda berupa gurauan segar. dalam batas - batas tertentu gurauan atau humor merupakan harapan - harapan emosional. tekanan tekanan hidup yang tidak diberi ruang jeda untuk beristirahat sejenak, akan menimbulkan beban berkepanjangan. yang akan berakibat lebih fatal pada kemudian hari.... (halah halah asa udah berumahtangga euy... hihihihi...)
saya jadi teringat pesan Ali ra :" sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana badan pun bisa bosan (letih), maka carikanlah untuknya hiburan yang mengandung hikmah." lebih lanjut Ali menambahkan ," senangkanlah hati sebentar, sebentar, karena hati itu kalau dipaksa bisa menjadi buta." hmmmmm
Dr. Yusuf Qaradhawi pernah memaparkan kehidupan sekilas Rasulullah bersama keluarga dalam Hadyu Islam fatawi Mu'ashirah. Apabila berada dirumah, beliau suka bersenda gurau dengan istri - istri beliau, serta mendengarkan mereka bercerita. ada banyak kisah - kisah menarik tentang kebiasaan humor Rasulullah saw. salah satunya coba saya copasin ya..... :D .....
Aisyah bercerita , Rasulullah saw dan Saudah binti Zum'ah berada disisiku, lalu aku buatkan harirah (tepung yang dimasak dengan susu atau lemak) dan aku hidangkan untuk beliau. lalu aku hidangkan untuk Saudah," Makanlah !"
"Aku tidak suka," kata saudah, menolak
"kau harus makan atau aku lumurkan ke mukamu!"
"aku benar-benar tidak suka." lagi lagi saudah menolak tawaranku. Lalu , aku mengambil sedikit kue dari pinggan, lantas kuoleskan kemukanya. saat itu, Rasulullah saw merendahkan kedua lututnya kepada Saudah agar ia dapat mendekat kepadaku. setelah itu (dengan cepat), Saudah mengambil kue dari pinggan dan mengoleskannya ke mukaku. melihat semua itu Rasulullah hanya tertawa.
Subhanallah... kita tengah memotret sepotong kehidupan seorang suami yang kita jadikan uswah, ternyata menghiasi rumah tangganya dengan gurau - gurau yang segar yang meneduhkan jiwa para penghuninya. Lelaki itu menjadikan rumahnya tidak sekedar tempat berteduh fisiknya, tetapi sekaligus menciptakan ruang peristirahatan bagi kelelahan jiwanya, setelah (mungkin) seharian penuh memikirkan pekerjaannya : memikirkan umatnya.
Dari fragmen kehidupan Rasulullah dan kisah sehari hari yang sering saya temui dalam kehidupan berkeluara, saya berpikir bahwa senda gurai dalam rumah tangga ternyata diperlukan. ia menjadi terminal tempat kita mengistirahatkan pikiran kita dari kepenatan hidup.....
Ada beberapa suami yang mengelola kehidupan rumah tangganya dengan menegasikan humor - humor segar. Ia tidak terbiasa untuk mengekspresikan kalimat cinta kepada sang istri , apalagi membangun humor. yang ada adalah keseriusan bersanding dengan ketegangan. yang dibiasakan adalah kalimat2 imperatif kepada sang istri. mereka memecahkan persoalan hidup dengan dahi berkerut kerut. akibatnya ketegangan-ketegangan tersebut melahirkan potongan jiwa yang sensitif, menutup pertimbangan rasional dan sentuhan sentuhan kemanusiaan. Begitukah Rasulullah menakhkodai rumah tangganya ? sampai saat ini saya tidak menemukan itu.... hmmm
saya sedikit cuplikan cerita dan obrolan seorang aktivis dan penulis.. beliau bercerita ........ (dalam versi cerita tapi nyata lo..... hmmmm)
Suatu saat teman saya memanggil istrinya : " dinda , coba sini !" (duh mesra nya jadi iri... hihihihi )
"ada apa, kanda ? tanyanya balik ...... (halah.. tambah iri nih.... :( ) lalu aku (sang suami) dekatkan wajahku ketelinganya dan aku bisikkan :" Aku mencintaimu..." (huaaa... ga ku ku..... jadi pengen ... hihihi) ada rasa sedih menyelimuti hati ketika mendengar ceritanya .... so sweet bangettt........saya kapan ya... :D
terus sang suami kembali ke posisi semula. sang suami memandangi wajah sang istri yang memerah . matanya berkedip seperti boneka, diikuti oleh bibirnya yang dimanyunkan... halah.. halah....
"Huh, bohong !" (hmm... aku tau dia tidak mengatakan itu sebagai kesungguhan , tetapi sekedar ekspresi bahagia dan bermanja, atau minta penegasan ulang, saya tahu, tetapi saya ingin situasi lain... hihihihi ) lalu dengan tersenyum saya katakan padanya.
"Lho, kok kamu tau ?" istrinya terbelalak. dan mereka tertawa bersama........(ikut dunk ketawanya....:D)
sebagai seorang suami, yang ingin terus belajar, kami merasa teramat bahagia ketika istrinya bisa mengekspresikan kebahagiaan secara lepas. tanpa tekanan sama sekali. secara terus terang kami katakan kepada istri bahwa saya berharap keluarga kami menjadi keluarga periang dan tidak penuh dengan ketegangan emosi yang kami ciptakan sendiri. sebab, kami menyakini bahwa ia sangat bermanfaat bagi hubungan hubungan kami berikutnya, termasuk juga bagi janin yang sedang dikandung istri saya, ibu dari anak-anakku kelak. ungkap beliau.
nah.. ini kisah lain lagi tapi masih tentang keluarga sang aktivis dan penulis diatas.... hmmm .. masih mau nyimakkan.... :D
suatu hari secara iseng kami berbincang bincang persoalan poligami. pembicaraan yang tidak terlalu menarik bagi kebanyakan wanita. dengan perseloroh saya memancing istri saya. " bagaimana ?"
"Boleh. Saya mengizinkan kanda menikah lagi." jawabnya ....
saya sedikit kaget, " tapi, ada syaratnya, : katanya , menambahkan... (halah..halah pake syarat toh... hihihi)
"apa ?"
" Mudah. syaratnya kanda harus memenuhi 3 (tiga) L." saya dibuatnya bertanya tanya . apa yang dimaksud istri saya.
" L yang pertama, calon istri harus (L)ebih muda dari saya. " dengan bercanda saya katakan, Wah memenuhi harapan dan nafsu....
"L yang kedua, ida harus (L)ebih cantik dari saya." syarat yang menyenangkan. kata saya." Lalu ,. yang ketiga ?"
"L yang ketiga," istri saya berhenti. menghela nafas sejenak, lalu berkata : " (L)angkahi dulu mayatku!" saya tertawa dan saya perhatikan istri saya menyunggingkan senyum. (sama atuh saya juga ketawa .. hihihi.. lutcu .. lutcu.... tapi hmm.. sebegitu menakutkan kah poligami itu bagi kaum hawa..... hummmm.....)
hmm... jadi teringat kata kata Abu Darda' Radhiyallahu 'anhu " Sesungguhnya aku mengharmoniskan hatiku dengan sedikit hiburan agar ia lebih kuat terhadap kebenaran." mudah mudahan

jadi.. hayo para suami jangan takut lagi tuk mengucapkan "AKU MENCINTAIMU " kepada istri-istri dan kelola canda yang menyegarkan rumah tangga kaliannn... hayo hayo... semangaaattt... buat istri selalu tersenyum asal jangan senyum senyum sendiri.....apalagi sampai ketawa sendiri .... hihihihi .....


Kamis, Agustus 21, 2008

AGENDA MUSLIMAH

Ukhti muslimah sekalian,....perlu sekali bagi akhwat memiliki agenda kegiatan yang berhubungan dengan amal shalih sehari-hari sebagai pengingat dan renungan tentang apa saja yang telah kita lakukan dan apa yang belum bisa kita lakukan, agar hati kita dipacu untuk selalu 'hidup' mengingat-Nya....sehingga apabila hati ini lalai (dan memang sering terjadi demikian) maka kita akan menyadarinya karena sesungguhnya bila hati ini 'sakit' maka akan beratlah anggota tubuh yang lain untuk melaksanakan ketaatan.
Saudariku...
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka saya cuplikan sedikit risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini ke hadapan Anda untuk direnungkan dan dijawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja saya cuplik ke hadapan saudariku dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya kita bisa mengambil manfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

Kehidupan Sehari-hari Yang Islami :

1..Apakah Anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu?

2..Apakah Anda hari ini membaca Al-Qur'an ?

3. Apakah Anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib ?

4. Apakah Anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib ?

5. Apakah Anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang Anda baca

6.Apakah Anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur ?

7. Apakah Anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya ?

8. Apakah Anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan Anda ke dalam Surga ? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata : ''Wahai Allah Subhanahu wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga''.

9. Apakah Anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali ? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata : ''Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka''. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya : ''Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata : ''Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata : ''Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka''. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).

10. Apakah Anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?

11. Apakah Anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik ?

12. Apakah Anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau ?

13. Apakah Anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ?

14. Apakah Anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari ?

15. Apakah Anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pent) ?

16. Apakah Anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati Syahid ? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : ''Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur''. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

17.Apakah Anda telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ia menetapkan hati Anda atas agama-Nya ?

18.Apakah Anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab ?

19.Apakah Anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama ? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar -pent).

20.Apakah Anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah ? Karena setiap mendo'akan mereka Anda akan mendapat kebajikan pula.

21.Apakah Anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan bersyukur kepada-Nya -pent) atas nikmat Islam ?

22.Apakah Anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya ?

23.Apakah Anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya ?

24.Apakah Anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja ?

25.Apakah Anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri ?

26.Apakah Anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala ?

27.Apakah Anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri Anda ?

28.Apakah Anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua ?

29.Apakah Anda mengucapkan ''Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun'' jika mendapatkan musibah ?

30.Apakah Anda hari ini mengucapkan do'a ini : ''Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui''. Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625).

31.Apakah Anda berbuat baik kepada tetangga ?

32.Apakah Anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki ?

33.Apakah Anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya ?

34.Apakah Anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian ?

35.Apakah Anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan ?

Saudariku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, insya Allah.

Maraji : Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh Fariq Gasim Anuz

KUTITIP

Rabby....................
kutitip cinta pada-MU
nanti akan aku ambil kembali
diwaktu ridha-MU

kutitip cinta
agar KAU jaga
hati, ruhiyah, jasmani, tingkah
laku.....
tetap dikoridor terjaga, tetap suci

kutitip cinta
agar KAU yang hamparkan
permadani
untuk tempat berlabuh

kutitip cinta
agar KAU yang menaungi
diantara jarum jarum hujan
hantu hantu bermata merah
mengintai licik

kutitip cinta...... agar semua tetap
untuk-MU

selamanya ........

Agustus 21, 2006

KETIKA PELUH BERBUAH SYURGA

Jika seorang muslimah ditanya tentang arti sebuah rumah tangga baginya, tentu akan banyak ungkapan yang muncul. terutama bagi para muslimah yang benar benar berprofesi sebagai ibu rumah tangga, dan terlebih bagi para ibu yang mempunyai maisyah untuk membantu suami. seabrek kenyataan akan diungkap tentang bagaimana peliknya mengurus tetek bengek yang berkaitan dengan rumah tangga. kesibukan yang luar biasa tentunya.....

Ada satu ungkapan yang berkaitan dengan tugas seorang istri mengurus rumah. kesibukannya yang tiada henti diibaratkan "mulai dari terbit matahari hingga terbenam mata suami " Astaghfirullah !.........
tapi barangkali ungkapan tersebut ada benarnya mengingat begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh seorang istri. Maka sungguh tidak adil jika ada yang menganggap remeh profesi ibu rumah tangga.

Mereka yang berpendapat bahwa ibu rumah tangga adalah profesi yang kolot, kuno, akan merubah 180 derajat pernyataanya jika mengetahui betapa mulia jasa seorang ibu dalam mengurus rumah tangganya. inilah jihad kaum muslimah, mengurus suami dan anak anak. seorang muslimah adalah penopang, pendukung dan penyemangat jihad suami disamping, membesarkan dan mendidik generasi rabbani, al-ummu madrasatun
Demikian agungnya kedudukan seorang muslimah, maka sejak ikrar akad nikah dilaksanakan, hendaknya mereka telah paham betul konsenkuensi yang akan dijalani. dzahir dan batin harus disiapkan menyambut amanah yang luhur ini. dengan predikat " istri" , seorang muslimah harus bisa mewujudkan impian berkeluarga, yakni sakina mawaddah warahmah. dipundaknya letak bahagia ataukah duka, sukses ataukah gagal, abadi ataukah seumur jagung . biduk rumah tangga akan dibangun.
setiap muslimah hendaknya membekali diri dengan ilmu. mengelola sebuah rumah tangga tidak cukup berbekal materi, lebih dari itu kesiapan mental adalah hal yang utama. kesiapan psikis menjadi dasar ketika memasuki pintu pernikahan. niat ikhlas untuk benar benar menjadikan amal shalihnya sebagai ladang memperoleh syurga. niat ikhlas bahwa dirinya adalah bagian dari perjuangan menjayakan islam dan muslimin, sehingga setiap yang dilakukan bernilai ibadah . lelah dan capeknya akan berbuah kenikmatan. keluh kesah tiada lagi, berganti dengan kesabaran dan ketabahan.
beban amanah yang dipikul para muslimah dalam mengurus rumah tangga disaat sekarang ini, nampaknya tidak sebanding dengan apa yang dialami para shahabiyat salafushshalih. karena di samping mengurus keluarga, mereka adalah penopang jihad kaum muslimin yang sejati.
Hajar , istri Nabiyullah Ibrahim a.s, ibunda ismail patut menjadi catatan penting bagi kita. Ia ditinggal oleh suaminya tanpa bekal apapun bahkan jauh dari sanak sodara."kepada siapa engkau meninggalkan kami." tanya hajar kepada sang suami. jawaban ibrahim tiada lain : " hanya kepada Allah". Subhanallah ......
siapa yang merasa cukup dengan Allah, maka Dia mencukupinya. siapa yang berlindung kepada Allah,maka Allah melindunginya . dan siapa yang kembali kepada Allah, maka Allah akan menerimanya.
ketika seorang istri ditimpa ujian dengan kesulitan hidup, ia bersabar dan tetap taat kepada suami. Fatimah az Zahra putri Rasul adalah teladan yang harus selalu dijadikan cermin. dalam riwayat Abu Dawud, Ali ra berkata : " Fatimah binti Nabi saw hidup bersamaku. ia menggiling gandum sampai membekas di tangannya, juga mengangkut air sampai membekas dilehernya dan menyapu lantai rumah sampai pakaiannya lusuh. dan ia membuat roti sampai wajahnya berubah." meski demikian putri Rasul yang mulia ini tetap tabah dan senantiasa taat menjalankan nasihat ayahandanya ketika permintaannya akan seorang khadimat ditolak oleh Rasulullah saw.
begitupun Asma binti Abu Bakar. ia adalah contoh dan suri teladan dalam kesabaran menghadapi masalah keluarga. diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata :" Zubair memperistriku. ia tidak memiliki harta , hamba dan kekayaan lainnya, kecuali unta untuk mengangkut air dan seekor kuda. saya memberi makan kudanya, mengambil air, menjahit timba kulit, dan membuat adonan roti, meskipun saya tidak dapat membuat roti dengan baik. beberapa tetangga perempuanku dari anshar menolong membuatkan rotiku dan mereka adalah wanita wanita jujur. saya mengangkut biji kurma dari kebun zubair yang diberi oleh Rasulullah saw diatas kepada, padahal jauhnya sekitar dua pertiga farsakh (kurang lebih tiga mil)." (HR. Bukhari dan muslim).
Demikianlah fitrah telah diberlakukan Allah bagi kaum muslimah. perannya di balik layar dalam memeneg sebuah rumah tangga, mendukung suami dan mendidik generasi qur'ani adalah jihad. mendidik generasi qur'ani adalah jihad. Baiti jannati adalah sebuah cita cita pemacu semangat disela sela merajut hari demi hari, meniti syurga Illahi.
Selamat berjihad kaum muslimah !
selamat mensyukuri nikmat Allah. selamat berbahagia mendampingi suami dan anak-anak, selamat membina rumah tangga yang sakinah, ceria dan penuh barakah. semoga Allah membangun rumah yang lebih agung , lebih kekal, lebih besar, lebih indah dari rumah dunia, yakni rumah akhirat, surga jannatun na'iim. amin


NASEHAT UNTUK YANG BERPOLIGAMI

Saudari ku ……. ijinkanlah saudaramu yang dhaif ini untuk mengutip sedikit nasihat yang ku ambil dari seorang hamba Allah yang telah menikahkan suaminya dengan saudarinya. Nasehat – nasehat ini termaktub dalam sebuah buku yang ditulis oleh suaminya yaitu yang berjudul “ ISTRIKU MENIKAHKANKU “ Karangan As Sayyid bin Abdul Aziz As sa’dani. Adapun nasehat-nasehat itu adalah :

I. Nasehat untuk istri pertama

1. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Ketahuilah bahwasannya ta’addud adalah hukum syar’i yang perintahnya datang dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui yang tersebunyi. Tidak boleh menjadikannya untuk perkara yang diperdebatkan. Akan tetapi, wajib mengimani kebenarannya serta menyakini kecocokannya untuk manusia karena Allah Swt tidak mensyariatkan untuk hamba-Nya, melainkan apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan akherat.

2. Ketahuilah bahwasannya keridhaanmu terhadap suamimu yang berta-addud adalah perkara yang agung. Hal tersebut menunjukkan ketakwaan dan agamamu karena ia adalah syariat dari Rabbul ‘Alamin dan merupakan ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, “ Dan taatilah Allah dan Rasul, mudah-mudahan kalian dirahmati. “ (ali Imran ; 132).

3. Perbaikilah aib-aibmu yang diingatkan oleh suamimu. Jika aib – aib tidak kamu perbaiki, maka tidak akan ada kebaikan dan kedamaian. Jika aib-aibmu habis serta berhenti, maka bersyukurlah kepada Allah atas hal itu.

4. Waspadailah syiar – syiar yang menipu dari musuh – musuh Islam (suami telah merusak kemuliaanmu, suami telah melukai perasaanmu atau tidak setia padamu). Ini adalah buatan musuh-musuh Islam yang dengki terhadap agama Islam. Islam memuliakan wanita, tidak menghinakannya. Bahkan, menjadikan untuknya tempat yang tinggi. Undang – undang ta’addud menjaga wanita dari perbuatan kotor dan menjaga hak serta kemuliaannya.

5. Jauhilah meminta talak (cerai) dari suamimu karena ia berta’addud karena ta’addud disyariatkan, dan kebenaran ada bersama suami secara syar’i. Tidak halal bagimu melakukan itu. Siapa saja dari wanita yang meminta talak dari suaminya dengan tanpa sebab (syar’i) , maka haram atasnya bau surga.

6. Janganlah berlebihan dalam mencemburi karena itu adalah kunci perceraian. Janganlah banyak berkeluh kesah serta menampakkan kekesalan karena akan mewariskan kebencian.

7. Tingkatkanlah perhatian terhadap suamimu dan perbanyaklah pujian atasnya dihadapannya maupun ketika dia tidak ada disisi keluargamu, atau ketika bersama teman-temanmu karena hal ini dapat memperbaiki hati dan lisanmu. Hal ini dapat membuat suamimu ridha terhadapmu. Dengan demikian kamu menjadi teladan yang agung bagi para wanita yang mengingkari perkara ini (pernikahan kedua, atau yang tidak suka suaminya menikah lagi)

8. Jangan dengarkan ucapan orang – orang jahil yang berpaling, yang menginginkan rusaknya hubungan antara kamu dan suamimu, atau antara kamu dan istrinya yang kedua. Janganlah membuat suatu hukum atau keputusan berdasarkan apa yang kamu dengar, kecuali setelah mengetahui kebenarannya.

9. Jangan penuhi hati anak – anakmu dengan kebencian terhadap istri bapak mereka, begitu juga terhadap anak – anaknya. Sesungguhnya mereka adalah bersaudara dan makar yang jelek hanya akan menimpa pelakunya.

10. Jangan ubah mu’amalah kamu terhadap suamimu. Jauhilah mengurangi perhatian suamimu dalam masalah hak – hak yang telah Allah syariatkan untuknya. Janganlah biarkan dirimu jadi permainan ditangan setan. Mintalah tolong kepada allah serta senantiasalah berdoa kepada allah agar ia memenuhi hatimu dengan keimanan dan kecintaan.

11. Terimalah dengan qana’ah apa yang ia sanggup memenuhinya untukmu dari rezeki yang telah Allah berikan kepadanya.

12. Mendengar dan taat terhadap suamimu dalam setiap perintahnya yang tidak memuat Allah marah

13. Berlaku tuluslah untuk suamimu seperti ketulusan seorang hamba kepada tuannya. Jadilah hamba wanita baginya, niscaya ia akan menjadi budak laki-laki bagimu. Jadilah sebagai bumi baginya, niscaya ia akan menjadi langit bagimu

14. Ketahuilah bahwasannya kebahagiaan hakiki adalah dalam menjalankan perintah Allah dan mentaati-Nya. Kemenangan, kesuksesan dan kebahagiaan manusia tidak didapatkan kecuali dengan menaati perintah Allah.

II. Nasihat untuk Istri yang kedua

1. Ketahuilah bahwa keridhaanmu menikah dengan seorang pria yang telah memiliki istri adalah perkara yang agung. Hal tersebut menunjukkan ketakwaan dan agamamu, insya Allah. Pahamilah ini dan harapkanlah pahalanya disisi Allah.

2. Manfaatkanlah waktu bagian untuk istri yang pertama dengan memperbanyak membaca Al-Quran , mendengarkan kaset-kaset yang bermanfaat dan membaca buku – buku yang berfaedah sebagaimana sepantasnya bagimu untuk menunaikan tugas – tugas rumah dan menata dirimu

3. Jadilah seorang da’iyah kepada Allah dalam hukum ta’addud ini. Buatlah manusia paham terhadap hikmah Allah dalam pensyariatan-Nya terhadap perkara ini. Jangan menjadi provokator bagi wanita – wanita untuk menentang pernikahan yang kedua. “ Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak kepada Allah dan beramal shalih dan ia berkata, “ Sesungguhnya aku adalah dari kaum Muslimin.” (fuslihat;33)

4. Janganlah lalai dalam merawat istri yang pertama dan anak-anaknya jika diperlukan. Sesungguhnya dalam hal itu ada pahala disisi Allah dan membuat suamimu ridha terhadapmu. Selain itu juga menumbuhkan keakraban diantara kamu dan istri yang pertama serta anak-anaknya.

5. Jangan tampakkan kehadapan manusia kekurangan dan aib istri yang pertama. Jangan mengatakan kepada manusia bahwa suaminya tidak menikah lagi, melainkan karena benci dan tidak suka padanya. Sesungguhnya itu adalah jerat setan.

6. Jangan berusaha merusak hubungan antara suamimu dan istri pertamanya dengan tujuan agar suami hanya menyukaimu karena ini adalah namimah “ mengadu domba”. Namimah itu termasuk dosa besar. Berusahalah agar suamimu tidak melihat itu darimu. Jika kamu melihat padanya kecendrungan pada istri yang pertama atau kecintaan karena ia ingin bersama anak – anak atau sebab lain maka mengalahlah dan relakanlah malamu untuk istri yang pertama, kamu akan melihat buah yang baik dan besar, insya Allah.

7. Jangan berlebihan dalam cemburu karena sesungguhnya itu adalah kunci talak (perceraian). Jauhilah banyak mengeluh dan menampakkan kekesalan karena hal itu akan mewariskan kebencian.

8. Mendengar dan taat dalam setiap masalah yang tidak membuat Allah marah.

9. Tuluslah untuk suamimu seperti ketulusan hamba kepada tuannya. Jadilah hamba baginya, niscaya ia akan menjadi budak bagimu.

10. Qona’ah dengan apa yang dia sanggupi dalam memenuhi hak – hakmu. Wanita mukminah yang sebenarnya adalah yang ridha dengan pemberian Allah untuknya dari rzeki. Jangan menyusahkan suamimu dengan permintaan – permintaan yang tidak perlu. Jangan bebani ia diluar batas kemampuannya serta janganlah memperberat tanggung jawabnya dengan hutang – hutang untuk memenuhi sebagian keinginanmu.

Saudariku ….. diantara contoh – contoh yang jarang diceritakan oleh sejarah kepada kita yang diriwayatkan kitab – kitab biografi tentang keteladanan sebagian istri – istri yang menghargai kondisi suami – suami mereka yang tidak ada batasnya, walaupun mengorbankan mashlahah mereka.

Ketika Fathimah dan Ali bin Abu Thalib melewati hari – hari yang berat dalam masalah ekonomi , yang membuatnya menahan lapar sampai tiga hari, Ali melihat kulit Fathimah telah memucat, Ali berkata kepadanya : “ Ada apa denganmu hai Fathimah ? “ ia menjawab , “ semenjak tiga hari yang lalu kami tidak mendapatkan apa – apa dirumah. “ Kemudian, Ali berkata kepadanya , “ Kenapa kamu tidak memberitahu saya ? “ Fathimah menjawab , “ Pada malam pernikahan, ayahku berkata kepadaku , “ Hai fathimah, apabila Ali memberimu, membawa sesuatu, maka makanlah dan jika tidak, maka janganlah kamu meminta kepadanya.”

Saudariku ……. Manakah dia wanita – wanita yang ingin meneladani Fathimah ?

Mana Wanita – wanita yang bersungguh – sungguh ingin mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disiapkan untuk orang – orang yang bertaqwa ?

Selanjutnya Saudariku ijinkan pula aku mengutip nasehat penulis buku “ ISTRIKU MENIKAHKANKU “ untuk para suami

III. Nasehat untuk para suami

Saudaraku para suami…….. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “ Agama itu adalah nasihat.”

1. Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah diantara istri-istrimu. Tanamkanlah dalam keyakinanmu bahwa Allah senantiasa mengawasi segenap mu’amalahmu. Adillah diantara mereka pada apa – apa yang engkau miliki dan mampu melakukannya. Janganlah sekali – kali berlaku zalim atau condong dan berat sebelah kepada salah seorang dari mereka. Letakkan didepan matamu sabda Nabi Saw : “ Barangsiapa yang memiliki dua orang istri, lalu ia condong kepada salah seorang dari keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat sedangkan badannya miring sebelah.”

2. Jangan sampai tujuanmu melakukan ta’addud untuk memuaskan naluri seks semata. Para pengikut syahwat, yaitu orang – orang yang berpindah – pindah diantara taman – taman syahwat dari satu wanita ke wanita lain, mereka mengikuti dorongan syahwat. Tindakan tersebut tidaklah terpuji. Bisa jadi maksud mereka ini termasuk dalam nikah mut’ah yang diharamkan dalam islam, apabila ia menikahinya dan dalam niatnya ia akan menalaknya dan tidak akan lama bersama wanita yang dinikahninya.

3. Jadilah seorang yang meneladani Rasulullah saw dalam segala keadaanmu. Dialah suri teladan dalam hal itu. Rasulullah saw adalah seorang suami yang penyabar, santun, tegas, lapang dada dan teman yang lembut lagi berwibawa. Beliau adalah orang yang paling mengasihi wanita dari umat ini. Beliau bersabda : “ Sebaik – baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya dan saya adalah yang paling baik diantara kalian terhadap istrinya.” Pernah beliau memerintahkan Hassan bin Tsabit Ra yang sedang memegang tali kekang onta salah seorang istrinya yang berada di Haudaj, beliau berkata “ Lembutlah terhadap Qawarir.” Beliau menyerupakan istrinya dengan qawarir “ botol “ dalam hal kelembutan dan kebeningannya.

4. Berbuat baiklah terhadap istri-istrimu dan maafkanlah kekeliruan serta pergaulillah dengan baik. Bertanyalah kepada ahli ilmu tentang hukum – hukum ta’addud yang tidak kamu ketahui. Suami yang senantiasa merasakan pengawasan Allah bertanya tentang apa yang tidak ia ketahui. Allah berfirman : “ …. Maka tanyakanlah kepada ahli zikir (ilmu) apa yang tidak engkau ketahui. “ (Al-Anbiya ; 7)

5. Berlaku adillah diantara anak-anakmu dari kedua istrimu, dekatkanlah diantara hati – hati mereka, walaupun kamu mendorong istri yang satu menyusui anak yang lainnya. Buatlah mereka paham bahwa mereka bersaudara. Janganlah membuka jalan bagi setan diantara mereka

6. Berusahalah untuk mengajarkan anak-anakmu Al-Qur’an dan sunnah nabi serta mengamalkan keduanya. Istri dan anakmu adalah tanggung jawab diatas pundakmu. Tunaikanlah kewajibanmu agar kamu selamat dari azab Allah. Allah berfirman : “ Wahai orang – orang yang beriman , jagalah dirimu dan keluargamu dari api nereka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu – batu, yang dijaga oleh malaikat – malaikat yang kasar yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim ; 6).

7. Perbanyaklah pujian dan sanjungan untuk istri-istrimu dan tanamkanlah pada setiap mereka bahwa tidak ada cinta dan kasih sayang , kecuali dengan menaati A-Rahman (yang maha pengasih) dan membuat suami ridha.

8. Jangan menukil perkataan yang satu kepada yang lain. Jangan percayai untuk suatu rahasia karena ia akan cepat menyebarkannya kepada yang lain, atau ia akan berbangga karena ia menyimpan rahasia suaminya, sedangkan yang lain tidak

9. Jangan memuji kecantikan, atau masakan atau akhlak seorang istri dihadapan istri yang lain. Sesungguhnya itu akan mengeruhkan kehidupanmu dan menambah kebencian, kecuali kamu memandang bahwa itu mendatangkan kebaikan bagi yang berbicara bersamamu

10. Jangan dengarkan perkataan yang satu mengenai yang lain dan laranglah dari perbuatan itu, maka tipu daya setiap mereka akan mati dan terkubur dalam hati setiap mereka

11. Maklumilah sebagian kekurangan – kekurangan istri-istrimu dan berusahalah utnuk berlaku lembut terhadap mereka serta menyebut kebaikan mereka. Umar bin Khaththab Ra adalah seorang yang keras dan serius dalam hukum dan keadilannya berkata : “ Sepatutunya seorang laki – laki hendaklah menjadi seperti anak kecil dengan istrinya (maksudnya dalam kelembutan dan keakraban), walaupun dihadapan orang banyak dia adalah seorang pria dewasa.

IV. Nasehat untuk Istri – istri

1. Janganlah kamu menolak ta’addud karena ia adalah hukum Allah pada makhluk-Nya dan Dia lebih mengetahui apa yang baik untuk para wanita. Sebagaimana Allah telah mewajibkan atas laki – laki untuk berperang (jihad), padahal ia tidak disukai oleh mereka. Begitu juga Allah mensyariatkan ta’addud, padahal ia tidak disukai oleh mereka. Allah Maha Mengetahui maslahat – maslahat hamba-hamba-Nya. Allah tidak akan memerintahkan, melainkan yang ada kebaikan dan berkah padanya. Jikalau ta’addud jelek semata, niscaya ia tidak akan memerintahkan mereka melakukannya dan tidak akan dibolehkan-Nya bagi mereka. “ Yang demikian itu barangsiapa yang mengagungkan syiar – syiar Allah, maka sesungguhnya itu merupakan ketaqwaan hati. “ (Al-Hajj ; 32)

2. Kami tidak mengatakan kepadamu, “ Mintalah suamimu untuk memadumu . “ akan tetapi, kami katakan , “ Kamu tidak boleh menentangnya, hakmu adalah memintanya berlaku adil saja.

3. Saudariku Muslimah ! dari mana kamu mengetahui bahwa suamimu tidak akan berlaku adil antara kamu dan istrinya yang kedua. Ini tidak mungkin. Apakah kamu mengetahui yang gaib, ataukah hanya karena ketakutan terhadap sesuatu yang tidakl mengetahuinya, kecuali Allah

4. Jangan terpengaruh dengan sebagian pengalaman yang dialami sebagian orang – orang bodoh dan lemah iman yang melalaikan istri – istri mereka dan membahayakan mereka, serta tidak memberikan persamaan terhadap istri – istrinya, sesungguhnya ini adalah bentuk – bentuk yang tidak disetujui oleh Islam. Kondisi sebagian kaum muslimin bukanlah dalil atas islam

5. Jangan mulai meminta talak dari suamimu tanpa ada alasan syar’i

6. Jika kamu mengetahui dari suamimu keinginannya untuk berta’addud, janganlah menghalanginya. Jika kamu menghalanginya, secara tidak langsung membantunya menempuh jalan haram. Dikhawatirkan kamu ikut mendapatkan dosanya karena kamu seperti orang yang menunjukkan atasnya. Berapa banyak dari istri – istri yang keji yang menjadi penyebab suaminya terjerumus melakukan zina dan skandal akibat penolakannya terhadap ta’addud yang telah disyariatkan Allah.

7. Kamu memiliki suri teladan yang baik pada istri – istri Nabi dan shahabiah yang mulia. Rasulullah telah melakukan ta’addud dan dia adalah guru manusia. Begitu juga dengan para sahabat. Semoga Allah meridhai mereka semua.

8. Orang – orang yang menikahkan anak-anak perempuannya, dengan pria yang telah beristri telah membuktikan bahwa anak – anakperempuan mereka berada dalam kehidupan tumah tangga yang bahagia, melebihi kebahagiaan wanita yang menikah dengan suami yang hanya memiliki satu istri.

9. Perbaikilah sikapmu ketika menyambut suamimu disaat kedatangannya kerumah dengan senyuman yang bersinar, pakaian yang bagus, dan ajarkanlah anak-anakmu menyambut ayah mereka dengan hangat.

10. Janganlah menyebut seluruh kelelahan yang kamu hadapi disiang hari bersama anak – anak, dan menampakkan ketidaksukaan terhadap mereka ketika ia sedang makan. Saya nasehati agar kamu menunda permintaan dan keluhan pada waktu yang lebih tepat.

11. Jangan membalas suamimu ketika ia sedang marah. Jagalah emosimu walaupun kebenaran ada bersamamu dengan gaya bahasa yang sopan serta lembut. Berusahalah untuk membicarakan permasalahan ketika kemarahannya telah reda. Jika hal tersebut kamu lakukan, maka kamu akan dapatkan dia kembali kepadamu meminta maaf. Ingatlah selalu atsar yang maknanya bahwasannya suamimu adalah surga atau nerakamu.

12. Buatlah ia terus merasakan bahwa ia berharga dan memiliki keutamaan. Memohonlah kepada Allah agar senantiasa menjadikannya penopang

13. Berusahalah mengambil simpati kedua orang tuanya khususnya ibunya. Perlakukanlah persis seperti ibumu, dengan memberinya sebagian hadiah. Bicarakanlah kelebihan – kelebihan suamimu dihadapannya. Doronglah suamimu untuk berbakti kepada ibunya dan sering mengunjungi serta membantu urusan – urusannya.

14. Apabila suami menyelesaikan sebagian pekerjaannya di rumah, maka berusahalah untuk menciptakan suasa yang tenang dan menyenangkan untuknya. Apabila ia ingin beristirahat sejenak, jauhilah darinya hiruk pikuk anak – anak, serta berusahalah untuk membangunkannya untuk shalat.

15. Mintalah pandangannya dalam masalah mendidik anak-anak dan mengajarkan mereka. Adapun dalam masalah materi, jadikanlah syiarmu, “ kita tidak berselisih dalam masalah dunia yang fana. Oleh karena itu, kita tidak berselisih misalnya dalam membeli perkakas, atau pakaian atau makanan. Secara umum jadilah sebagaimana yang diwasiatkan seorang wanita arab yang bernama Ummu Iyas kepada putrinya sebelum hari pernikahannya :

- Jadilah bumi baginya, niscaya ia akan menjadi langit bagimu

- Jadilah budak wanita baginya, niscaya ia akan menjadi budak pria bagimu

- Ketundukan disertai qana’ah dan mendengar serta mentaatinya

- Menjaga mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya melihat yang jelek darimu dan mencium yang tidak sedap darimu

- Menjaga waktu tidur dan makannya karena hilangnya waktu makan melelahkan dan hilangnya waktu tidur membuat murka

- Menjaga hartanya dan anak-anaknya. Kuncinya adalah pengaturan baik

- Jangan menentang perintahnya dan jangan menyebarkan rahasianya, maka kamu tidak akan aman dari pengkhiatannya. Kemudian, janganlah kamu bergembira dihadapannya ketika ia susah, dan janganlah bersedih dihadapannya ketika ia bergembira.

16. Berusahalah untuk senantiasa mengajar anak-anakmu dirumah, baik dari Kitabullah maupun sunnah Rasul-Nya, berdasarkan firman Allah : “ Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumahmu dari ayat – ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha Mengetahui. (Al-Ahzab;34)

17. Ketahuilah bahwasannya keutamaan ilmu itu sangat besar hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : “ Tidaklah ada satu kaum yang berkumpul disalah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun atas mereka ketenangan dan rahmat meliputi mereka serta malaikat akan menaungi mereka. Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada disisinya

18. Ajarkan anak-anakmu adab-adab makan, tidur, berpakaian, adab masuk ke Wc dan keluar darinya, zikir pagi dan sore, dan lain sebgainya dari adab dan zikir yang shahih dari sunnah Nabi yang Suci

19. Berusahalah untuk membaca Al-Quran dan menjadikannya sebagai wirid harian serta membaca kitab – kitab hadist selama memungkinkan.

KETIKA HATI HARUS BERBAGI

Ketika hati harus berbagi

Saudariku ada yang mesti kita persiapkan , hati yang menerima, jiwa yang rela dan keikhlasan tuk berjuang bersama-sama dijalan Allah. Siapkah engkau saudariku ?

Islam adalah ajaran yang diturunkan olehDzat yang menciptakan langit dan bumi dengan teliti, tanpa ada celah dan cacat, bahkan tiada keretakan sedikitpun padanya. Maka Islam adalah ajaran yang sempurna, tiada kekurangan , kebatilan , bahkan tiada keraguan. Allah berfirman : “

“ Yang tidak datang kepadanya (al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang mahabijaksana lagi maha terpuji.” (QS. Fishilat ; 42).

Islam adalah aturan yang berasal dari Dzat yang maha cermat, hingga tidak satupun ciptaan-Nya yang sia – sia , maka orang – orang cerdas yang mau menggunakan akal dan nuraninya pasti mengatakan , “ Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia- sia, Maha suci Engkau , Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (ali Imran ; 191)

Sesungguhnya segala apa yang diturunkan Allah adalah li maslahah al ‘ibad yaitu untuk kemaslahatan / kepentingan hamba-hambaNya, sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui maslahat-maslahat hamba-Nya. Allah tidak menurunkan syariat agama, melainkan adalah Rahmat bagi umat, baik manusia mengetahui hikmahnya atau tidak, walaupun tanpa padanya sesuatu yang tidak disukai jiwa.

Malangnya pada zaman ini wajah serangan terhadap Islam dan peraturannya bertopengkan agama untuk menghancurkan agama. Seperti halnya masalah TA’ADDUD (POLIGAMI).

Allah berfirman, “ ….. Maka bisa jadi kamu membenci sesuatu dan allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa;19).

“ ….. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia adalah baik untukmu, Bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (Al-Baqarah ; 216).

Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Ya …… Poligami …. Itulah sebuah fenomena pernikahan yang sangat dilematis di kalangan kaum Hawa. Namun Kaum Adam pun juga bagian dari unek – unek persoalan ini, bahkan menjadi pemeran utamanya.

Dalam berbagai kasus pernikahan, poligami menjadi “ potret “ tersendiri yang sulit diselesaikan secara obyektif. Bagi sebagian suami menganggapnya bagian dari “ nyunnah” tapi bagi sebagian para istri malah meresponnya sebagai “ nyunnah” yang kebablasan.

Emang poligami itu seringkali menjadi momok bagi kaum muslimah. Menjadi suatu ketakutan yang sangat. Itu semua terjadi karena pemahaman mereka tentang poligami yang terlalu minim dalam hal ini Pemahaman yang keliru terhadap teks dalil, atau salah paham terhadap aturan. , karena besarnya egoisme mereka akan hal kecintaan yang berlebihan terhadap suami melebihi kecintaan mereka kepada Allah dan juga karena Hati yang masih sakit , hingga seperti orang yang mengingkari sinar matahari, karena sakit mata, atau orang yang menganggap air segar itu pahit karena lidahnya sedang sakit atau juga karena pengaruh lingkungan yang menghadapkan mereka pada akibat dari poligami itu sendiri Mereka sering melihat praktek poligami yang menyimpang. Dan praktek yang menyimpang itulah yang menimbulkan trauma psikis yang dalam pada diri mereka. Padahal kalau kita sedikit saja membuka mata dan hati bahwa tidak semua praktek poligami itu menyimpang, insya Allah kita kaum akan tau manfaat poligami itu sendiri.

Akan tetapi untuk para suami, juga jangan selalu berdalih bahwa ini adalah merupakan syariat yang diperbolehkan Allah. Karena berpoligami bukanlah semudah membalikan telapak tangan. Ada tugas yang bertambah berat disana, ada amanah yang mesti dipertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak. Mungkin kalau ditanya tentang kesanggupan mereka untuk berpoligami pada semua hamba Allah yang bernama kaum Adam maka jawaban mereka mayoritas akan berkata “ kami sanggup “. Akan tetapi perlu dipertanyakan kesanggupan seperti apa yang mereka maksudkan ? setidaknya para suami yang hendak berpoligami juga harus mempertimbangkan faktor psikologis istri, anak mereka , keluarga mereka. Agar tidak memberi dampak negatif akan praktek poligami itu sendiri. Kesiapan dari segala sisi kehidupan harus dipertimbangkan karena poligami bukan untuk menimbulkan permasalahan baru akan tetapi mengatasi dan menyelesaikan masalah. Pihak suami haruslah terlebih dahulu memantapkan dan menguatkan hati istri akan kesiapan mereka untuk berpoligami. Bekali mereka dengan ilmu , pemahaman dan image yang benar akan poligami itu. Dan tanamkan dihati mereka akan kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan mereka terhadap suami – suami mereka juga terhadap anak – anak dan segala kekayaan dunia.

Seperti yang dikatakan oleh Dr. yusuf Al Qaradawi dalam bukunya Markaz al-Mar’ah fi al-hayat al islamiyah “ Sesuatu yang amat menyedihkan apabila daripada penyeru – penyeru kepada Sistem barat yang ada ditanah air arab dan umat Islam mengambil kesempatan apa yang berlaku pada sebagian muslimin yang menyeleweng , lalu mereka ini bangkit menyuarakan agar ditutup pintu poligami sama sekali. Mereka ini pagi dan petangnya hanya membicarakan mengenai keburukan poligami. Padahal pada masa yang sama mereka mendiamkan diri seperti diamnya orang didalam kubur mengenai keburukan Zina, yang dengan sedihnya diharuskan oleh sistem perundangan manusia yang menghukum negara – negara umat Islam hari ini.”

Inilah yang berlaku pada hari ini, lelaki yang mempunyai istri memangsa wanita yang bersedia dimangsa dirinya. Yang keburukannya akan menimpa istrinya yang sah dan keluarga. Begitu pula perselingkuhan & perzinahan yang semakin meluas yang dicerminkan oleh masyarakat, disamping adanya media massa yang bersedia menjadikan kisah – kisah tersebut sebagai bahan masukan yang menguntungkan. Malangnya golongan ini hanya diam, tiada isu yang hendak dimainkan mereka. Namun jika mereka melihat adanya peluang yang memberikan mereka kesempatan untuk memukul agama dengan senjata yang meracun aqidah maka mereka jadikan perantara yang dapat membantu mereka menanamkan keraguan golongan awam yang tidak paham terhadap Islam.

Suatu hal yang wajar bahkan sangat wajar bila ada satu dua masalah pada orang yang menjalani poligami, tidak bisa dikatakan bahwa poligami itu membawa kerusakan. Kita tidak bisa hanya melihat pada pelaku poligami yang tidak adil. Sedangkan disisi lain banyak para pelaku poligami yang berjalan secara adil sesuai aturan Islam. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa berpoligami membawa keburukan kepada keluarga dan masyarakat adalah pendapat yang mengandung kekeliruan yang nyata, karena sesungguhnya syariat Islam tidak mungkin menghalalkan untuk manusia sesuatu yang memudharatkan mereka, sebagaimana tidak mungkin mengharamkan manusia sesuatu yang memberi manfaat kepada mereka. Sebagaimana tertuang dalam firman Allah dalam Surat Al-A’raf ; 157. “ (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung “

Permasalahan baik besar maupun kecil akan selalu ada, baik itu dalam pernikahan poligami maupun monogami. Tetapi tidaklah pada kesimpulan bahwa pernikahan monogami dan poligami itu tidak baik ! dan tidak sampai pada kesimpulan bahwa menikah itu tidak baik !

Sebaiknya persoalan poligami ini janganlah dibicarakan dengan nada emosi kewanitaan yang tidak terbimbing atau pandangan sekumpulan lelaki yang takutkan istri mereka. Hukum syariat memenuhi tuntutan akal yang waras dan logik yang kukuh sekalipun mungkin emosi membantahnya. Jika kita melihat kepada seorang dokter yang menyuntik seorang bayi dengan jarumnya sehingga menyebabkan bayi tersebut menangis, andaikan pikiran kita tidak dipenuhi pengetahuan tentang kebaikan tindakan dokter tersebut, kita tentu akan membantah dan menganggap dokter seorang yang dzalim, menganiaya bayi tersebut sehingga dia kesakitan dan menangis. Namun apabila pengetahuan kita cukup kita tidak lagi melihat pada tangisan bayi tetapi pada kebaikan yang akan diperolehnya. Demikian pula poligami.

Poligami dibolehkan dengan syarat adil, bukan karena sakit, atau mandul atau lain sebagainya. Ta’addud boleh dilakukan selama seorang laki-laki terpenuhi pada dirinya syarat adil yang dia mampui yaitu terpercayanya seorang muslim terhadap dirinya, bahwa dia sanggup berlaku adil terhadap semua isterinya baik tentang soal makannya, minumnya, pakaiannya, rumahnya, tempat tidurnya maupun nafkahnya. Siapa yang tidak mampu melaksanakan keadilan ini, maka dia tidak boleh kawin lebih dari seorang.

"Jika kamu tidak dapat berlaku adil, maka kawinlah seorang saja." (an-Nisa': 3)

Dan bersabda Rasulullah s.a.w.:

"Barangsiapa mempunyai isteri dua, tetapi dia lebih cenderung kepada yang satu, maka nanti di hari kiamat dia akan datang menyeret salah satu lambungnya dalam keadaan jatuh atau miring." (Riwayat Ahlulsunan, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Yang dimaksud cenderung atau condong yang diancam oleh hadis tersebut, ialah meremehkan hak-hak isteri, bukan semata-mata kecenderungan hati. Sebab kecenderungan hati termasuk suatu keadilan yang tidak mungkin dapat dilaksanakan. Oleh karena itu Allah memberikan maaf dalam hal tersebut. Seperti tersebut dalam firmanNya:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. An-Nisa`: 129)

Sebagian besar kita menyimpulkan Ayat ini bahwa Islam pada dasarnya agama monogami". Saudariku yang semoga dirahmati Allah beginilah apabila menafsirkan ayat dengan penafsiran sendiri, tanpa mau melihat bagaimana para ulama tafsir ketika menafsirkan ayat-ayat Allah. Ayat ini justru menunjukan disyari'atkannya poligami. Mari saudariku kita simak para ahli tafsir ketika mereka menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129)

Ath-Thabariy -rahimahullah- berkata, "Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian". [Lihat Jami' Al-Bayan (9/284)]

Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa'diy-rahimahullah- dalam menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129), "Allah -Ta'ala- mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah -Ta'ala- memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan. Kemudian, Allah -Ta'ala- melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib),

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

"Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung". (QS. An-Nisa`: 129)

Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya". [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]

Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata dalam Adhwa' Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas, "Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi'at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar'iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan".

Jadi, dari komentar para ahli tafsir tadi, tidak ada di antara mereka yang berdalil dengan ayat itu untuk menolak poligami. Lantas kenapa kita tak mau menoleh ucapan para ulama' tafsir? Jawabnya, karena tafsiran mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu kita

Oleh karena itu pula setelah Rasulullah membagi atau menggilir dan melaksanakan keadilannya, kemudian beliau berdoa: (disebutkan dalam Hadist daripada Aisyah ra. bahwa Nabi Saw membagikan hak diantara istri Rasul dengan adil. Rasulullah bersabda : "Ya Allah! Inilah giliranku yang mampu aku lakukan. Maka janganlah Engkau siksa aku berhubung sesuatu yang Engkau mampu laksanakan tetapi aku tidak mampu melaksanakan." (Riwayat Ashabussunan).

Yakni sesuatu yang tidak mampu dikuasai oleh hati manusia dan sesuatu kecenderungan kepada salah satu isterinya. Nabi sendiri kalau hendak bepergian, ia mengadakan undian. Siapa mendapat bagiannya, dialah yang nanti akan diajak pergi oleh Nabi. Beliau bersikap demikian demi menjaga perasaan dan tercapainya persetujuan oleh semuanya

Sebenarnya membicarakan tentang keadilan mutlak yang tidak mungkin dapat diberikan oleh manusia. Keadilan dalam aspek perasaan kasih sayang yang ada didalam hati. Ini semua bukan dalam batas kemampuan manusia. Sehingga manusia tidak mampu menjadikan kadar kasih sayangnya terhadap anak-anaknya sama, demikian jugalah terhadap istri-istrinya. Namun apa yang dituntut adalah agar adil dalam persoalan akhlak pergaulan dan sikap, persoalan kebendaan hendaklah dalam timbangan keadilan dalam kata lain sanggup untuk mewujudkan keadilan, yaitu menyamakan antara dalam hal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, mu’amalah yang baik bagi setiap istri dan giliran waktu serta apa yang telah diwajibkan Allah untuknya karena itu dalam batas kemampuan manusia. Tidak boleh perasaan cinta didalam hati membawa kepada ketidakadilan dalam tindakan. Seorang istri tidak berhak melarang suaminya dari suatu hak yang telah dibolehkan Allah untuknya, yaitu ta’addud “ Poligami”. Tidak ada hubungan antara cantik tidaknya seorang wanita, mandul atau suburnya, dan ta’at atau tidaknya kepada suami dengan ta’addud. Ta’addud dibolehkan dengan syarat adil, bukannya dengan sebab – sebab tersebut. Perlu digaris bawahi bahwasannya Allah mensyariatkan ta’addud untuk suatu hikmah yang agung. seperti, mengentaskan masalah bertambahnya jumlah yang terlambat menikah, menjaga kesucian, mengayomi janda – janda dari wanita muslimah dan lain sebagainya.

Ta’addud disyariatkan untuk kemaslahatan yang besar. Agama tidak datang untuk mengikuti hawa nafsu wanita dan tidak pula hawa nafsu laki – laki. Sesungguhnya Islam datang adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Perlu diketahui bahwasannya hukum asal dalam pernikahan adalah ta’addud “ Poligami “ dengan syarat adil, dan pengecualian satu (monogami) adalah ketika takut tidak bisa berlaku adil berdasarkan firman Allah :

“ ….. Maka nikahilah apa yang baik bagimu dari wanita ; dua atau tiga atau empat, maka jika kamu takut tidak (bisa) berlaku adil, maka nikahilah satu ….. (An-Nisa ; 3).

Dalam Ayat ini Allah memulai dengan ta’addud dan ini adalah hukum asal, kemudian Allah kecualikan menikah dengan satu (monogami) apabila dikhawatirkan tidak mampu mewujudkan keadilan. Sehubungan dengan itu, berdasarkan ayat ini Allah memerintahkan kaum laki – laki untuk berta’addud “ Poligami “ dan kalimat “ maka nikahilah “ merupakan perintah dari Allah Swt. Akan tetapi, dikaitkannya dengan syarat adil sebagaimana firman-Nya : “ Maka jika kamu takut tidak (bisa) berlaku adil , maka nikahilah satu.” Maksudnya . apabila tidak terpenuhi syarat adil , maka cukup dengan satu istri lebih utama dan lebih baik. Saudariku, hal ini berbeda dengan pemahaman keliru yang selama ini tertanam dipikiran kebanyakan manusia, yaitu bahwasannya yang asal dalam menikah adalah cukup satu istri, sedangkan pengecualian dalam ta’addud dan syarat ta’addud menurut pandangan mereka mempunyai sebab – sebab lain selain adil, seperti, penyakit istri, kemandulannya atau yang semisalnya. Tidak diragukan lagi bahwasannya pemahaman yang keliru ini bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul Saw. Sesungguhnya para ulama telah membuat kaedah, "Barometer dalam menafsirkan ayat dilihat pada keumuman lafazhnya, bukan pada kekhususan sebab turunnya ayat tertentu" seperti ayat diatas baiklah saya kutipkan lengkapnya :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya". (QS. An-Nisa`: 3)

Banyak diantara kita yang menyatakan bahwa , "Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, dimana banyak sahabat wafat di medan perang. Ayat ini memungkinkan lelaki muslim mengawini janda, atau anak yatim, jika dia yakin inilah cara melindungi kepentingan mereka, dan hartanya dengan penuh keadilan. Jadi, ayat ini bersifat kondisional".

Saudariku yang menjadi pembahasan adalah bahwa ayat ini bersifat kondisional, padahal seandainya ayat ini bersifat kondisional, justru ayat ini sangat memungkinkan untuk diamalkan pada zaman sekarang, karena melihat perbandingan jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Oleh karena itu, poligami di saat sekarang ini mestinya lebih disemarakkan! Jadi, dilihat cakupan dan keumuman ayat di atas dan lainnya, maka mencakup semua lelaki yang memiliki kemampuan lahiriah.

Saudariku , Islam mengizinkan seorang lelaki untuk berpoligami disertai dengan peraturan dan disiplin yang mesti dipatuhi. Jika disiplin itu tidak dipatuhi hanya diijinkan satu. Begitu pula yang monogami juga ada disiplin dan peraturan yang mesti diikuti. Persoalan keadilan untuk istri bukan saja bagi yang berpoligami yang bermonogami juga mesti adil terhadap istrinya yang seorang tersebut, cuma konteks pengendaliannya saja yang berbeda.

Islam tidak memaksa lelaki berpoligami, tetapi mengizinkannya sebagai keharusan yang dapat menyelesaikan banyak masalah. Namun pemikiran barat telah menghantui sebagian penentang poligami ini. Apabila ada ketidakadilan yang dilakukan oleh sebagian pelaku poligami maka sistem itu disalahkan. Adalah tidak baik untuk mereka ini mengikuti jejak langkah barat suatu hari nanti mengizinkan hubungan tanpa nikah atas alasan perkawinan mengekang wanita dan mendzalimi mereka. Bila mereka melihat ada suami yang tidak adil maka perkawinan akan dianggap menganiaya wanita dan patut dicegah.

Sesungguhnya Islam bisa diumpamakan sebuah toko yang menyediakan berbagai jenis obat untuk semua jenis penyakit. Jangan karena ada obat yang dijual itu tidak sesuai dengan penyakit kita maka kita menganggap obat tersebut mesti dihapuskan. Poligami adalah salah satu obat bagi penyakit yang sesuai dengannya. Menghalangi zina dan membantu wanita. Bagi yang tidak memerlukan obat ini dia tidak disuruh meminumnya.

Untuk para muslimat Perlu kita ketahui bahwa poligami bisa dijalankan dengan tujuan membesarkan Allah, kita akan merasa sangat baik untuk pendidikan hati kita. Kita akan tahu bahwa kita belum sabar, maka kita akan belajar untuk bersabar. Kita bisa tau bahwa dihati kita ada hasad (cemburu) dan dengki lalu kita belajar untuk tidak hasad dan dengki. Kita bisa tau bahwa selama ini kita lebih mengedepankan kecintaan kepada suami dari kecintaan kita kepada Allah lalu kita belajar untuk lebih mencintai Allah.

Begitu banyak kaum muslimat yang takutkan akan poligami. Mereka menggunakan salah satu Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim tentang pelarangan Rasulullah atas niat Ali bin Ali Thalib untuk memadu putri beliau Fatimah dengan putrinya Abu Jahal. Hadist tersebut adalah “ Jika Ali menikahi putri abu Jahal, hendaklah ia menalak putriku. Kemudian Ali tidak jadi memadu Fatimah. Sesungguhnya mereka ini hanyalah mengambil sebagian hadist dan menyembunyikan bagian yang lain. Sesungguhnya penyebab Rasulullah melarang Ali menikahi putri Abu Jahal adalah ketika kedatangan Fathimah Ra kepada Nabi Saw dan berkata : “ Sesungguhnya Quraisy mengatakan bahwasannya engkau tidak cemburu terhadap putri – putrimu. “ sehubungan dengan itu, Rasulullah Saw berbicara dihadapan manusia, “ Sesungguhnya keluarga bani Hasyim bin Al-Mughiroh minta izin kepadaku untuk menikahi putri mereka dengan Ali, maka aku tidak mengizinkannya, kecuali Ali menalak putriku. Ketahuilah! Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Akan tetapi, demi Allah tidak akan berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah dibawah satu atap. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan memfitnah putriku. Sesungguhnya fathimah adalah bagian dariku. Meragukanku apa yang meragukannya, dan menyakitiku apa yang menyakitinya.”

Intinya disini bahwa Rasulullah Saw melarang Ali menikah dan meminta darinya untuk tidak menyatukan antara Putri Nabi Saw dan putri Musuh Allah yang bernama Abu jahal dibawah satu atap. Rasulullah tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal yaitu Poligami. Hal ini berdasarkan dalil perkataan beliau : “ Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Bagaimana mungkin Rasulullah Saw mengharamkan itu karena Allah telah berfirman , “ ….. Maka nikahilah apa yang baik bagimu dari wanita – wanita, dua, atau tiga, atau empat …… (An-Nisa; 3). Selain itu, Syaikh Al-Adawiy dalam Fiqh Ta'addud Az-Zaujat (126) berkata, "Di antara kekhususan Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-, putrinya tidak boleh dimadu. Ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (9/329)". Perlu diketahui bahwa para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-, bahkan Ali sendiri berpoligami setelah Fathimah wafat. Ali bin Rabi'ah berkata, "Dulu Ali memiliki dua istri". [HR. Ahmad dalam Fadho'il Ash-Shohabah (no.889)]. Ini menunjukkan bahwa poligami tetap diamalkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-

Di antara dalil poligami, Seorang tabi'in, Sa'id bin Jubair, "Ibnu Abbbas berkata kepadaku: "Apakah engkau telah menikah ?" Aku menjawab " Belum". Ibnu Abbas berkata, "Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya". [HR. Al-Bukhariydalam Shohih-nya).

Satu lagi dalil poligami -namun sebenarnya masih banyak-, Anas bin Malik -radhiyallahu 'anhu- berkata, "Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setellah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi". [HR Bukhariy dalam Ash-Shohih]

Seorang ulama' Syafi'iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- dalam Fatul Bari (9/10) berkata, "Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang".

Dalam hal ini Kaum muslimat begitu banyak mengikuti hawa nafsunya “ rasa khawatir mereka akan cinta suami terbagi “? Padahal hal itu bukanlah merupakan suatu ketakutan yang mendasar, ketakutan itu hanyalah hembusan dan hasutan dari setan. Kalau ditanya apakah cinta suami akan terbagi ? maka jawabannya adalah tidak ; jika antara suami istri punya cita – cita yang sama yaitu mencintai Allah. Perlu kita sadari , karena manusia sudah tidak menganggap Tuhan segalanya, maka bila berumahtangga dia menganggap suami adalah segala-galanya. Padahal, kalau kita membesarkan cinta pada Allah, maka Allah sendirilah yang akan membagi kebahagiaan itu. Ingatlah saudariku, segala apa yang ada pada diri kita adalah milik Allah. Suami, anak, harta benda bahkan diri kita sendiri adalah milik Allah. Kita sendiri tidak mempunyai hak kepemilikan atas semuanya. Suatu saat kelak titipan ini akan diambil oleh sang Punya yaitu Allah. Untuk itu ukhti, mari mulai sekarang kita mempersiapkan diri dalam menghadapi perpisahan dan kehilangan atas segala apa yang dititipkan Allah pada kita. Cukuplah Allah sebagai kekuatan kita dalam menghadapi segala hal yang mungkin dapat memalingkan hati kita dari membesarkan cinta kita pada Allah. Yakinlah saudariku, bahwa Tiada sesuatupun yang hilang sia-sia disisi Allah, Allah memelihara semuanya itu disisi-NYA sebagaimana Dia memelihara barang titipan bagi pemiliknya. Dia pasti akan menyerahkan kembali kepada pemiliknya kelak pada hari akhir.

Sesungguhnya saudariku, seorang wanita muslimah yang hidup didalam rumah sederhana, menyembah Tuhannya, mengerjakan sholat lima waktunya, taat pada suaminya, dan puasa sebulannya, lebih berbahagia daripada wanita yang tinggal dalam istana menjulang tinggi dan bergelimang dengan kesenangan dan kemewahan diantara para abdi dalem dan pelayannya. Sesungguhnya wanita beriman yang hidup dikemah dengan makan roti gandum , minum dari kendi, disertai dengan mush-haf dan tasbihnya lebih bahagia hidupnya daripada wanita yang hidup digedung tinggi dalam kamar yang mewah, sedang ia tidak mengenal Tuhannya , tidak pernah mengingat-NYA dan tidak pernah mengikuti petunjuk-NYA.

Ingatlah ukhti mukminah akan hadist :

“ idzaa sholatil mar’atu khomsaha wa shomat syahroha, wa atho’at ba’laha wa hafizhat farjaha, dakholatil jannah min ayyi abwaabin sya’at.” Apabila seorang wanita sholat lima waktu (dengan benar) , dan shaum dibulan ramadhannya, dan mentaati suaminya serta menjaga kehormatannya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan “ (al-hadist)

“ Ayyuma imro’atin maatat wa zaujuha ‘anha roodin dakholatil jannah” Wanita mana saja yang meninggal sedang suaminya ridho atas kepergiannya ia akan masuk surga (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

Janganlah perturutkan ego mu saudariku, karena itu akan menghancurkanmu. Untuk itu saudariku, pahamilah makna kebahagiaan dengan pengertian yang sebenarnya bahwa ia bukanlah sebagaimana pengertian sempit lagi timpang seperti yang digambarkan oleh sebagian besar kalangan muslimah. Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada uang, furniture, pakaian, makanan, minuman, kendaraan, bukan itu ukhti. Kebahagiaan yang hakiki terletak pada ketenangan jiwa, kegembiraan ruhani, kelapangan dada, tegaknya akhlaq, bersihnya sepak terjang disertai sikap menerima apa adanya dan tidak berlebihan.

Marilah saudariku kita tidak memandang poligami dengan pandangan panik apalagi mencurigai. Tetapi untuk para suami juga tidak memandang dengan kacamata buram yang akhirnya menjadikan kita tidak kritis dan cenderung memudah-mudahkan.

Ingatlah saudariku, Dalam menilai sesuatu karena zaman ini sudah rusak, maka nilai- nilai manusia / moral juga sudah sangat jauh dari kehendak Allah. Contoh, para wanita mengatakan dirinya merasa dihina dengan poligami, padahal itu boleh menurut islam, tapi wanita diminta buka aurat, lalu menjadi tontonan tak satupun menganggap dirinya merasa terhina. Padahal itu keadaan yang sangat menghinakan. Wanita sudah hilang malunya karena ketiadaan iman.

Banyak wanita – wanita yang berdalih kita ini wanita normal ! wanita normal itu seperti apa ukhti ? apakah Istri-istri Rasulullah bukan wanita normal ? manusia normal adalah manusia yang tahu dirinya hamba dan Allah sebagai Tuhannya. Tentu dia akan sangat mencintai TuhanNya dan dirinya akan merasa malu dengan Allah. Malu , mengapa “ orang jahat “ seperti kita tapi masih diberi oleh Allah rasa kebaikan – kebaikan. Kalau kita saja yang “ Masih Jahat “ dan masih diberi banyak kebaikan oleh Allah, bagaimana pula kehebatan keluarga Rasul ?

Poligami itu indah dan memang perlu, perlu bagi wanita untuk dapat lebih mudah membesarkan asma Allah.

Sesungguhnya Islam menanamkan persaudaraan dan bibit-bibit cinta antara kaum muslimin. Telah bersabda Rasulullah saw yang artinya : “ Tidak akan sempurna keimanan salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri.”

Dan Allah berfirman : “ …… Dan mereka mendahulukan (saudara-saudara mereka), walaupun mereka membutuhkan…….” (Al-Hasyr ; 9)

Tidak diragukan lagi bahwasannya seorang istri yang memikirkan solusi untuk problema – problema saudari – saudarinya yang terlambat menikah, yang ditalak, dan ditinggal mati suaminya sehingga mereka bisa bernaung dalam sebuah rumah tangga, tentulah wanita tersebut istri yang mukminah. Sosok wanita yang mencintai untuk saudarinya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, sebagaimana terdapat dalam hadist diatas. Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang mengekang hawa nafsunya, bersabar, dan melawan jiwanya serta ridha terhadap wanita wanita lain menjadi istri suaminya diatas syariat Allah dan Rasul-Nya adalah lebih baik daripada wanita yang membuat suaminya mencari jalan-jalan menjerumuskannya kepada yang haram. Seolah – olah ia mengharamkan bagi suaminya apa yang dihalalkan untuknya, dan menghalalkan untuknya sesuatu yang haram karena kemarahan dan penentangannya terhadap keinginan suaminya untuk menikah dengan istri kedua. Sebaliknya, istri yang memiliki sifat itsar’ memdahulukan kepentingan orang lain, mereka mendahulukan atas diri mereka sendiri, walaupun mereka membutuhkannya.

Sekarang marilah kita kembalikan semua kepada Allah. Dialah penyelesai segala masalah. Sekarang ini yang jadi masalah sebenarnya bukanlah poligami. Sama halnya sekarang banyak orang sholat tapi masih korupsi. Lantas apakah dengan begitu kita akan memerangi shalat ? banyak masalah lain yang kita perlu selesaikan.

Yang terpenting sekarang ukhti adalah terima dulu bahwa poligami adalah syariat masalah dilakukan atau tidak itu sangat tergantung pada kemampuan masing – masing.

Terakhir, diri yang kurang ilmu ini menasihatkan kepada para muslimat agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari'at poligami, karena ini adalah kekufuran. Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Baz-rahimahullah- berkata, "Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam-, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Allah -Ta'ala- berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka". (QS. Muhammad: 9)[Lihat Nawaqid Al-Islam]

Tapi para suami yang akan melaksanakannya , persiapkanlah diri dan keluarga dengan bekal yang cukup agar syareat Allah ini tidak menjadi boomerang terhadap syareat itu sendiri.

Yang mengamalkannya marilah kita hormati tapi yang belum kita hormati juga , jangan masalah ini membuat kita saling mencemooh satu sama lain, saling menyakiti sesama dengan ucapan yang tidak bermanfaat.

Mari saat ini kita tetap istiqomah saudariku. Dimana orang yang istiqomah terhadap Allah memiliki 4 sifat gunung yaitu : tidak lebur oleh terik mentari, tidak beku oleh cuaca dingin, tidak goyah oleh hempasan angin dan tidak bergeser oleh arus air. Siapkah ukhti ?

Bandung, Mei 2007

Ainun Mardiyah

sebuah tulisan dari seorang muslimah yang biasa bahkan terlalu biasa, yang memiliki cita cita yang sederhana. tulisan ini kupersembahkan buat sodari sodariku, mari kita belajar untuk lebih mengedepankan cinta kita kepada Allah. karena tugas kita bukanlah saling mempersoalkan masalah yang dihadapi saudara kita apalagi itu merupakan syariat. tapi tugas kita adalah memegang amanah yang dititipkan kepada kita yaitu mendidik dan menjadikan anak2 kita calon pemuda pemudi dimasa depan pembela dienul islam dan menjadi api penerang bagi keabadian dakwah ini dimasa datang.

Sumber – sumber :

1. Istriku MenikahkuAs Sayyid bin Abdul Aziz As sa’dani

2. Jadilah Wanita yang paling bahagia ; DR. Áidh Bin Ábdullah Al-Qarni

3. Majalah As-sunnah

4. Zaujaat la ‘ Asyiqaat (ta’addud Syar’ie Dloruroh ‘Ashri) hamdi Syafiq, Download

5. Tafsir Al-Maraghi , Ahmad Musththafa Al-Maraghi, DArul Kutub Al-Ilmiyah, Bairut – Libanon, Cet. Pertama 1998 – 1418)

6. Madza Ya’ni intima’I Lid Da’wah, Muhammad Abduh, Darut Tauzi’ wan Nasyrul Islamiyah, Kairo , Cet Pertama Tahun 2004

7. Poligami : Solusi atau masalah ? , Khozin Abu Faqih, LC

8. Buku Halal Haram “ Yusuf Al-Qaradawi”, download

9. kumpulan hadist bukhari - muslim