Tampilkan postingan dengan label seri keluarga dan pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seri keluarga dan pernikahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 04, 2010

SUAMIKU, ISTRIMU LEBIH RIDHA PERUTNYA DILILIT BATU

saudariku.... jika engkau istri yang shalihah takkan kau biarkan sejumputpun barang haram masuk ketubuhmu, tubuh anak anakmu dan tubuh suami yang setiap malam berdekat lekat denganmu.

saudariku... jika engkau istri yang shalihah engkau takkan rela ada api menjilat kulitmu yang halus dan cantik kelak di neraka Allah, menjilat kulit anak anakmu yang lembut, dan menjilat kulit suamimu yang liat dan macho itu.

saudariku.... jika engkau istri yang shalihah, tentu berpuasa lebih baik bagimu daripada ngemil kerikil neraka.

Saudariku... jika engkau istri yang shalihah, jangna ijinkan suamimu tertuntut untuk mengais -ngais yang haram diantara sampah dunia.

saudariku.... jika engkau istri yang shalihah, engkau akan menyemangatinya dengan Allah, dan bukan dengan mengatakan :" kapan sih kamu bisa membahagiakan isteri !"

saudariku... jika engkau istri yang shalihah, yang akan kau katakan ketika suamimu berangkat adalah :" selamat berjuang suamiku tercinta, ya habiballah. segala kelelahanmu bekerja menjemput yang halal dari-Nya, akan dibalas Allah dengan pijatan lembut di syurga. disanalah kita menikmati setiap jerih payah. pergilah dengan ridha Allah dan pulanglah dengan barakah-Nya. kami dirumah lebih ridha berlapar lapar dengan perut dililit batu. kami Insya Allah kuat untuk itu. yang kami tidak mampu adalah didihan bara neraka, minuman panas membakar, buah zaqqum yang menggidikkan, darah, nanah, dan segala siksa yang tiada akhirnya....."

saudariku.... jika engkau istri yang shalihah, yang akan kau katakan ketia suamimu pulang adalah :" jujurlah pada Allah sayang.. cintaku.... darimana kau jemput ini semua ? dari syurgakah , hingga kelak kita akan bersama menikmati yang lebih banyak disana ? jika tidak, kembalikanlah. sungguh rumah reyot kita terlalu berharga untuk dimasuki barang hina meski emas, perak dan berlian bentuknya....

"aku dan anak - anakmu memang menghajatkan rizqi Allah. tapi hanya yang halal. aku dan anak anakmu menghajatkan banyak kebutuhan. tetapi kami lebih mencintai keberkahan. Qarun telah terbenam, Fir'aun telah tenggelam. bumi dan langit tidak menangisi mereka. tetapi adalah harapan kita berdua, untuk menemui Rasulullah ditelaganya. kelak segala kehausan sirna jika kita diberi minum olehnya."

Bersemangatlah suamiku, cintaku..... untuk menjemput barakahnya. Doa kami bersamamu...

************

Bandung, in memoriam 1 tahun yang lalu

terimakasih ya Allah walau hanya 11 bulan kumendampingi almarhum suamiku

masih terasa lekat disini, dihati ini akan kelembutannya, ketawadhuannya, kesabarannya

cintanya, kasih sayang dan penghargaannya pada seorang istri yang baru belajar tuk menjadi sholehah

terimakasih mas tuk semua kenangan yang terindah

disampingmu tak pernah kurasakan sedikitpun kesedihan

karena berada disampingmu hanya manisnya iman kurasakan


MENYIANGI TAMAN SPIRITUAL KITA

Kang Danu datang tergopoh gopoh kerumah kami. Untung saja suami saya belum berangkat kerja. Tidak biasanya ia datang sepagi itu, kecuali ada suatu masalah yang akan dibicarakan. Wajahnya terasa berat dan dia tidak segera bicara. Ketika suami saya sampaikan candaan, tumben datang pagi – pagi lalu suami saya Tanya maksud kedatangannya, ia hanya diam dan mengalihkan pertanyaan.

Sampai akhirnya , ketika wajahnya mulai cerah, kang danu mulai mengatakan maksudnya. Tapi itupun belum jelas.

“Istri saya, mas. Saya bingung.”
“ada apa kang ?”
“kami bertengkar lagi,” katanya menjelaskan . lalu kang danu menambahkan,” itulah sebabnya, tadi malam saya tidak berangkat ngaji kesini.”

Suami saya hanya mengangguk, mencoba memahami arah pembicaraanya. Kang danu terus bercerita. Dan dalam situasi seperti itu, suami saya harus mampu memerankan diri sebagai pendengar yang santun. Kang danu mengisahkan bahwa saat tertentu dia dan istrinya dapat bersikap sangat romantis , maklum manten anyar. Pikir saya

Tapi saat yang lain, ia dan istri akan berubah sensitive, mudah tersinggung, meletup dan akhirnya pecahlah kemarahan mereka. Kalau sudah seperti itu, mereka tidak lagi memiliki pertimbangan jernih. Padahal , usia pernikahan mereka baru menginjak bulan ketiga; saat saat mereka harus menikmatinya. Pemicunya, tutur kang danu sangat sepele. Kadang soal cucian, makanan, antar jemput, meludah dan sebagainya.

Kami kenal kang danu sudah lama. Kami pernah satu aktivitas dalam lembaga dakwah dan ketakmiran masjid yang sama. Ia tipe penurut dan pekerja yang baik. Entahlah, semenjak menikah ia berubah. Persoalan-persoalan kecil menjadi masalah besar bagi keluarganya.

Kita mungkin pernah mengalami hal yang sama dialami kang danu. Problem kehidupan keluarga yang sebenarnya sangat sepele mendadak kita hadapi tanpa daya dan kekuatan. Kita merasa lemah dan menganggapnya sebagai persoalan besar. Pertimbangan akal kita menjadi tumpul dan daya baca emosi kita terhadap persoalan menjadi rabun.

Masalah yang kita hadapi tidak terdefinisi dengan jelas. Kita panik. Dan dalam situasi demikian, cara yang paling nyaman untuk ditempuh adalah melakukan blaming partner, meyalahkan pasangan kita. Diksi atau pilihan kata kita kurang menyentuh dan lebih dominant sebagai luapan emosi yang tentu sangat menyakitkan pasangan kita. Kita merasa akumulasi masalah yang dihadapi menjadi belukar yang runyam, pada saat taman spiritualitas kita kering dan tidak pernah disirami.

Pemicu luarnya bisa banyak hal, tetapi penyebab utamanya hanya satu : taman spiritualitas kita lebih banyak ditumbuhi belukar, yang merusak ketajaman mata batin kita untuk menelisik masalah hidup kita. Keringnya taman spiritualitas dalam diri kita bisa disebabkan oleh menurunnya semangat ibadah kita, akumulasi kekhilafan dan dosa kita, kemalasan kita untuk berbuat kebaikan, timbunan masalah yang menciptakan kepanikan dan sebagainya.

Kata orang bukan besarnya masalah yang merisaukan kita tetapi bagaimana jiwa kita merespon setiap masalah yang mendera. Kemampuan diri merespon setiap masalah berbanding lurus dengan kualitas spiritual kita. Kualitas spiritual kita sesungguhnya menandai kedekatan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dan pengaruh apa yang lebih dekat daripada kedekatan. Kedekatan itulah yang mewarnai kita untuk mendekati setiap masalah dalam perspektif Ilahiyah. Faidza faraghta fanshab’ sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan’ (QS.Al-Insyirah ;5)

Oleh karena itu, sebelum melakukan blaming partner (menyalahkan istri kalian), hendaknya telah ada evaluasi yang mengamati secara jeli apakah taman spiritualitas kita tumbuh subur ataukah sedang dirimbuni belukar. Kita perlu sering mengunjunginya. Keimanan kita memang fluktuatif; dan sifat yang harus kita kenali sebelum kita memutuskan sesuatu yang (akan) diiringi parade penyesalan.

Kekuatan imanlah yang menyebabkan seorang muslim jauh lebih tenang ketika menghadapi berjubel masalah. Sungguh menggagumkan kekuatan iman yang terjaga dengan baik. Sungguh mempersona taman spiritualitas seorang muslim yang selalu disiraminya dengan ketundukan dan kepatuhan Rabbaniyah. Sungguh menyejukkan citra keluarga muslim yang taman spiritualitasnya subur diatas tanah yang gembur.

Ketika Syeikh Mustafa Masyhur dijebloskan kedalam penjara, bersamanya seorang pemuda yang diliputi kecemasan. Mereka memasuki lorong lorong gelap, tempat sejumlah aktivis muslim disiksa dan di interogasi. Saat itu, sang pemuda berbisik kepada Syeikh Mustafa Masyhur muda.

“Syeikh, mereka akan membawa kita jauh dari pengamatan manusia, lalu kita disiksanya.”

“wahai ananda, mereka boleh menjauhkan kita dari manusia, tapi yakinlah bahwa mereka akan kesulitan untuk menjauhkan kita dari Allah ta’ala.” Jawab Mustafa Masyhur dengan penuh keyakinan.

Lihatlah ! situasinya sama, tapi penyikapannya berbeda. Demikian pula masalah dalam keluarga kita.

Wallahua'lam, semoga Allah mengampuni saya jika karena pengetahuan saya yang kurang luas sehingga saya menulis, berbuat dan berbicara salah.

***********************

Bandung, in memoriam 1 tahun yang lalu

Untuk Almh. suamiku yang diuji Allah bertubi tubi
Jazaakallaahu khairan ya Habiballah…..
Kini istrimu ini tahu bahwa kau begitu dicintai-Nya,
Kini istrimu mengerti bahwa engkau telah dimuliakan-Nya
Musibah musibah itu menggugurkan dosa,
Menambah derajat tinggi disisi-Nya
Maka …
Walaupun Allah telah memisahkan raga kita
Tetaplah ajari istrimu ini tuk mengenyam manisnya kesabaran,
Indahnya qona’ah & nikmatnya syukur
Ajarilah istrimu ini merasakan sejuknya ibadah &
Mulianya ketaatan.

NEVER ENDING TA'ARUF

DARI SEKIAN LELAKI yang berbahagia dengan pernikahan, mungkin nama Syuraih Al-Qadhi dapat kita masukkan sebagai salah satunya. Wajah lelaki itu merekahkan senyum ketika salah seorang sahabatnya , Sya’bi bertanya tentang kehidupan rumah tangganya.

Sejenak ia menerawang. Ia mencoba mengumpulkan potongan – potongan memori tentang kehidupan keluarganya. Sambil tersenyum Syuraih bertutur :” sejak dua puluh tahun yang lalu,” katanya,” aku tak pernah melihat istriku berbuat sesuatu yang membuatku marah. Mulai malam pertama yang aku lihat padanya hanyalah keindahan dan kecantikan belaka. Dan, itu berlangsung sampai sekarang. Dua puluh tahun !”

Syuraih kembali menuturkan bahwa pada malam pertama, ia berniat melaksanakan dua raka’at sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Dengan diterangi sebuah lampu yang redup, Syuraih hanyut dalam kekhusyukan ibadah. Namun, betapa terkejutnya Syuraih ketika menoleh mengucapkan salam, dibelakangnya duduk seorang wanita. Dengan cahaya lampu yang remang remang itu, akhirnya syuraih mengenali kalau wanita itu adalah istrinya. Ternyata sang istri turut menjalankan shalat di belakangnya. Wanita itu mengulurkan tangannya. Senyumnya yang indah mengelegakan jiwa syuraih. Senyum itu tidak pernah pudar meski telah dua puluh tahun.

“Selamat datang, wahai abu Umayyah,” sapa sang istri.” Alhamdulillah , aku memuji dan memohon pertolongan-Nya. Semoga Shalawat serta salam tetap terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya,” wanita itu menghela nafas sejenak namun, pendar senyum itu tiada pudar. Dan, kembali melanjutkan tuturnya.

“Sungguh aku adalah perempuan asing bagimu. Aku sama sekali tidak tahu akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa2 yang kau senangi dan yang tidak kau senangi, apa yang kau senangi akan aku usahakan penuhi, dan yang tidak kau senangi aku akan berusaha menghindarinya. Aku yakin diantara kaummu pasti ada orang yang akan menikahkan wanitanya denganmu , begitupula dikaumku, ada laki laki yang sekufu denganku. Akan tetapi, apa yang telah di tetapkan Allah harus dilaksanakan.

“nah, aku telah menjadi milikmu. Lakukanlah seperti yang telah Diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Aku mengucapkan ini dengan mohon ampun kepada Allah atasku dan untukmu.” Begitulah Syuraih menuturkan pernik kehidupan keluarganya kepada Sya’bi, sahabatnya.


***********

kita menemukan kisah inspiratif dari sepotong kenangan Syuraih Al-Qadhi dengan istrinya. Kehidupan suami istri adalah persyarikatan antara dua orang yang sebelumnya asing. Tidak pernah saling mengenal. Atau, kalau pun ada pengenalan, maka bisa dipastikan ia tiada utuh. Selalu saja ada bilik kosong yang belum kalian masuki dari kedirian kekasih kalian. Selalu saja ada lembar – lembar yang belum kalian baca tentang dirinya.

Akhirnya, kalian menemukan kenyataan bahwa ada pekerjaan yang tidak pernah berhenti dalam pernikahan. Pekerjaan itu adalah mengenali kekasih kalian secara utuh. Akan tetapi, bukankah pada saat menjelang pernikahan, biasanya telah dilangsungkan proses ta’aruf (perkenalan) ? memang, kadangkala demikian. Hanya saja proses ta’aruf yang terjadi sebelum menikah biasanya dilakukan relative singkat. Keadaan ini menyebabkan terbentuknya gambaran tentang pasangan hidup yang lebih dipengaruhi oleh harapan ideal kalian. Informasi yang dihimpun dari banyak pihak terkait dengan calon istri kalian, lebih banyak berkisar pada kebiasaan2 publiknya. Sementara itu, karakter dasar kepribadiannya belum sepenuhnya terungkap.

Proses ta’aruf sebelum pernikahan jelas sangat berbeda dengan proses ta’aruf setelah akad dilangsungkan. Yang pertama lebih banyak melihat ciri ciri yang menetramkan dan memantapkan pilihan. Belum ada orientasi yang lebih besar selain itu. Saat itu masih banyak pilihan untuk menentukan kehendak.

Sementara itu , ta’aruf setelah akad lebih berorientasi untuk memberikan perawatan terhadap cinta. Seseorang telah berhadapan dengan kenyataan. Ia tidak lagi dbuai oleh harapan yang membumbung.

Kekasih kalian adalah sebuah misteri yang harus dikuak. Cinta selalu menghajatkan pekerjaan kontinum, merawat dan menumbuhkan. Sebelum melakukan semua pekerjaan itu, ada satu proyek yang mendahuluinya, yaitu mengenali secara utuh pasangan kalian. Itulah sebabnya ta’aruf dalam pengertiannya yang luas dan tidak formal merupakan pekerjaan tiada henti. Begitulah yang terjadi dalam diri Rasulullah. Ketika beliau mendapati Aisyah sedang marah dan membanting piring, Rasulullah hanya berujar, “ ibumu sedang marah.”

Pengenalan yang utuh akan mendorong kalian untuk memberikan penerimaan yang utuh pula. Bahkan, lebih dari itu, pengenalan terhadap kekasih kalian pada dasarnya merupakan upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dirinya secara tepat. Setiap penggalan waktu yang dilalui bersama antara suami istri adalah proses panjang untuk saling ta’aruf. Ta’aruf yang berorientasi untuk memelihara cinta. Saat itu kalian tidak lagi memiliki pilihan kecuali mempertahankan cinta bagaimana pun keadaan kekasih kalian. Daya tahan kebersamaan itu akan semakin terjaga ketika kalian tiada sekedar menyesali kekurangan kekasih kalian, tetapi berusaha dengan sabar dan penuh kasih sayang untuk menumbuhkannya.

Disinilah kalian dapat menangkap semanga Ibnu Hajar Atsqolani ketika harus berhadapan dengan istrinya Uns Binti Abdul Karim. Wanita itu biasa saja, tapi Ibnu Hajar mampu menangkap potensi besarnya. Sang suami mengetahui bahwa istrinya sangat menyukai ilmu. Pengetahuan tentang istrinya itulah yang memberikan dorongan bagi Ibnu Hajar untuk mengajari istrinya ilmu hadits, sang istri akhirnya berkembang menguasai pelajaran itu.

kalian dapat menggunakan langkah pengamatan untuk mengenali tabiat dan kebiasaannya. kalian bisa menangkap obsesi dan harapannya melalui pikiran pikiran yang terlontarkan kepada kalian. kalian semestinya sanggup mengetahui sesuatu yang ia benci dan senangi dari diri kalian, melalui respon yang diberikan. Atau, kalian bisa membuka gerbang keterbukaan sebagaimana istri Syuraih Al-Qadhi dengan bertanya secara langsung.

Ta’aruf pasca menikah tidak sekedar mengenali diri istri kalian, tetapi memungkinkan untuk mengenali keluarganya, sahabat sahabatnya dan juga lingkungan yang membentuknya. Diatas hamparan cinta Illahi, kita ingin bermesraan sampai lama. Melampui batas batas usia. Menerabas semak semak penghalang. Dan , diusia pernikahan yang semakin senja , kita ingin melukis cakrawala sambil bercerita tentang sampan nelayan yang kita tumpangi, sanggup menembusi gelombang kehidupan. Bahkan, hamparan itu terus tergelar, membentang hingga negeri akherat. Disana kita masih melanjutkan cerita itu bersama kekasih kita. Semoga. Amin

***************************

Bandung, In Memoriam

ku coba tulis kembali kenangan setahun yang lalu

Biar tidak pudar ditelan waktu….

masih teringat jelas di benakku

Disaat pertanyaan itu ku ajukan padamu wahai mujahidku…

“mas, tolong kasih tau adek, apa saja yang mas senangi dan apa saja yang tidak mas senangi. Adek tau, diluar sana banyak muslimah yang lebih pantas mendampingi mas daripada adek. Tapi Allah telah menakdirkan ikatan ini, Bantu adek ya cinta tuk menjadi istri tercantik di hati mu ya habiballah…….

INGIN BERANI, MENIKAHLAH !!!!


Pernikahan merupakan wadah penggodokan yang mencetak pribadi -pribadi berani. seroang pemuda yang dimasa lajang sangat individual, kemudian ijab qobul yang membuatnya secara sadar memikul tanggung jawab bersama. keberanian suci itu tercipta dari komitmen terhadap amanah dunia akhirat.

sehingga sulit mengakui kedewasaan seseorang bila dia tidak berani berumah tangga. sebab pernikahan merupakan medan pembuktian kekuatan kepribadian. sebagaimana pernikahan pula yang menghadirkan loncatan keberanian suatu keputusan besar tentang memikul tanggung jawab, sikap koreksi diri, siap menerima resiko, dan pikiran untuk maju. nah, disinilah kematangan seseorang di tempa !

menjelang sampai kegerbang pernikahan beragam macam ketakutan menghantui. seolah olah ijab qabul merupakan pintumenuju jurang derita. tetapi satu satunya cara menghindari takut hanyalah dengan gagah perkasa menghadapi masalah. gigih berusaha menggapai yang terbaik dan selalu siap mental menerima resiko terburuk.

Loncatan keberanian sering melahirkan keajaiban demi keajaiban. hati yang lemah berubah gagah karena sang pemuja nan jelita senantiasa bangga dengan pengorbanan cinta sang arjuna. nyali tak pernah lagi ciut, sebab semangat terus dipompa oleh kebahagiaan di mahligai cinta.

Keberanian ajaib yang merupakan saripati kesadaran dan keikhlasan mendalam. cinta bukanlah menempuh jalan bertabur bunga, melainkan pematang yang penuh onak duri. berikutnya, cinta sejati yang menciptakan ledakan energi, yang lemah menjadi kuat, yang kurang terasa cukup dan yang biasa tampak istimewa.

Sesuai jaminan Allah , pernikahan suci membuat dua hamba menjadi kaya raya. kekayaan harta gampang dicaria. syaratnya cuma satu, yaitu kerja keras. lebih dari itu, kekayaan batinlah yang melimpah ruah dari sepasang insan yang saling mencintai karena Allah. itulah kekayaan yang tiada tergantikan oleh harta bergudang gudang. kekayaan abadi yang menyulap kegetiran sebagai ladang pahala yang membahagiakan sehingga suami sangat gembira sangat gembira saat bekerja keras memeras keringat. bahkan mengerjakan hal hal yang dipandang rendah dimata orang yang kurang bijak. pekerjaan remeh yang dulu ia malu melaksanakannya. sekarang malah mendatangkan kebanggaan karena hasilnya dinikmati dan disyukuri oleh keluarga tercinta.

Dahulunya ia tergolong lelaki pemalu, takut tantangan , dan kurang percaya diri. pernikahanlah yang membuatnya cinta tantangan, membuang malu yang tidak perlu, dan menikmati setiap ketegangan. sebab, lari dari masalah hanya menambah perih beban jiwa. ibarat jatuh tertimpa tangga. rugi dua kali, kegagalan dan ketakutan.

Suami tidak gentar menghadapi benturan diluar. Dia menjadi pria tegar yang dengan kepala tegak menghadapi cobaan dan senyuman ikhlas disetiap kesulitan. Dia tangguh menanggung sakit mencekam dan segala marabahaya.

Mengapa bisa sekuat sekarang ? sebab sekembalinya kerumah ia mendapati kedamai surgawi. Separah apapun kondisi,semuanya akan pulih oleh keikhlasan cinta. Rumahku syurgaku !

Suami pemula yang melangkah pasti menenteng belanjaan plus aroma amis ikan. Tanpa risih ataupun malu. Dahulu ? jangankan berdesakan belanja dipasar tradisional, dapur saja nyaris tak dikenal. Kelemahan masa lalu itu bisa diubah, apalagi kini hidupnya sudah ada tujuan.

Pada jiwanya tiada ruang bagi takut, gentar, cemas, gelisah dan sebagainya. Keberanian membuat seseorang menikmati lautan luka karena hati telah penuh oleh kesejukan dari bidadari yang tulus mencinta

Sebagai laki laki, suami membutuhkan penghargaan ekstra. Terutama dari istri yang bangga memiliki dirinya sehingga apa yang ia perjuangkan selalu bermakna, tidak pernah sia sia.

Seberat apapun resiko tampak kecil dimata pecinta. Paling besar resiko hidup hanyalah kematian dan semua orang pasti akan mati ! hanya cara dan kondisinya yang berbeda beda. Wafat dalam jatuh bangun perjuangan lebih terhormat daripada menghembuskan napas terakhir tanpa cinta istri. Tiada lebih memalukan bagi pria selain mati sebagai pengecut.

Loncatan keberanian menyulap gadis manja menjadi ibu yang tegar dan cekatan. Berani menepis rasa risih yang tidak beralasan. Kecuali malu kepada Allah jika lalai menjaga amanah rumah tangga

Istri menjadi berani bahkan ingin berulang kali melahirkan. Padahal semasa gadis ia sering tergidik ngeri mendengar angka kematian ibu hamil yang melonjak. Betapa kusut benaknya saat belia jika berpikir betapa rumitnya penataan rumah tangga. Setelah menjalani dengan tulus, tantangan malahan membuatnya semakin berani. Sesudah memainkan peran sebagai istri, ia justru menyesali mengapa tidak lebih segera mengambil keputusan berani ini !

Keberanian yang menyulap istri setangguh srikandi besi. Keberanian yang muncul dari keyakinan bahwa tiada pengorbanan terbuang percuma. Tiada yang sia sia disisi-Nya. Semua demi cinta bagi orang tercinta.

Keberanian tersebut kehadirannya tidak terdeteksi secara kasat mata, tetapi nyata. Efek positifnya bisa dirasakan dan enak dinikmati. Keberanian itu datang bukan secara bertahap /linear. Itulah keberanian hati (braveheart) yang meloncat bahkan meledak. Keberanian ajaib yang dianugerahkan Maha Pencinta bagi hamba-hamba-Nya.

Ternyata pernikahan bukan hanya perjanjian sehidup semati. Disana ada proses pembelajaran berkesinambungan. Materi materi kehidupan yang tiada pernah kering. Terutama dalam membina kepribadian unggulan.

Berani merupakan kosa kata dambaan sekaligus kebanggaan laki laki. Walaupun tidak sedikit pria telanjur menempuh cara keliru untuk merebut kata yang terkesan jantan tersebut. Pemberani yang mereka ekspresikan dengan wajah garang, tubuh seterek atau otot otot bertonjolan. Ada pula yang memilih hal-hal aneh dan berisiko besar. Lagi lagi demi menggondol kata Pemberani!

Akhirnya, rumah tanggalah yang mengajarkan keberanian dalam makna sejati. Keberanian itu menempa emosi yang stabil, kesabaran luar biasa menempuh gelombang kehidupan dan ketegaran yang tiada usai. Berani adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan sebagainya. Tiada takut atau gentar saat mengemban tanggung jawab yang mulia.

INGIN BERANI ? MENIKAHLAH !

************

Bandung, in memoriam

Membina Syurga di mahligai cinta

Senin, Agustus 25, 2008

Seorang Lelaki dan Kisah seekor anjing

Lelaki itu terlihat kusut. beban permasalahn terasa berat untuk ditanggungnya. Pagi tadi ia harus uring uringan dengan istrinya. persoalan persoalan sepele sering memicu pertengkaran antar keduanya. Padahal, usia pernikahan mereka belumlah seumur jagung. Rumah baginya tidak lagi sebagai taman syurga, tetapi telah berubah menjadi ladang pernyiksaan yang menyempitkan jiwa. kepalanya terasa penat.
Pagi itu memutuskan untuk pergi dari rumah. Tak ada tujuan yang jelas dia mau kemana. ia hanya ingin pergi meninggalkan rumah. Dengan diam diam, tak ingin diketahui istrinya, lelaki itu pergi keluar. Ia hanya berjalan kaki. terus saja ia berjalan. sesekali muncul keinginan untuk menceraikan istrinya. namun, niatan itu urung ketika wajah anaknya melintas dikepala."Astaghfirullah!" dan ia terus berjalan.
ia baru menyadari kalau perjalanan yang ia tempuh telah terlalu jauh ketika adzan dzuhur dikumandangnkan. didepannya persis berdiri sebuah mesjid. Terik panas yang membakar tubuhnya tak mampu melelehkan beban pikirannya. Shalat dulu, pikirnya. mungkin air wudhu mampu memberikan kesegaran. Ia tergerak untuk berwudhu dan selanjutnya shalat dzuhur.
Setelah shalat lelaki itu beristirahat sejenak di serambi. sampai akhirnya ia berhasrat untuk menyampaikan segala beban pikirannya kepada Imam masjid yang tadi memimpin shalat berjamaah. Imam itu masih sangat muda, tetapi sorot matanya teduh. entah oleh dorongan apa, lelaki itu bercerita tentang beban pikirannya kepada sang imam.
"Mas, saya hanya ingin bertanya. kalau anda dikejar anjing, apa yang akan anda lakukan ?" tanya sang imam.
lelaki itu terdiam sejenak. ia belum mengetahui hubungan antara pertanyaan sang imam dengan persoalan yang membelit dirinya. namun, ia mencoba untuk menanggapi.
"saya akan lari," jawab nya singkat
"oo, begitu," kata sang imam." dengan lari anda yakin anjing itu akan berhenti mengejar anda ?"
"saya tidak yakin."
"kalau begitu apa yang akan anda lakukan ?" kembali sang imam bertanya
"saya akan ambil balok. saya akan pukul anjing itu
"dengan memukulnya anda yakin anjing itu akan berhenti mengejar anda ?" mendengar komentar sang imam, lelaki itu kembali terdiam, Ia lalu menggelengkan kepala."lalu ?" tanya sang imam
"ya sudah, saya akan balik menggonggonginya?" kata lelaki itu. Sang Imam tertawa . entah karena dorongan apa, lelaki itu mendadak turut tertawa.
"ha.. ha.. ha... anda yakin anjing itu akan berhenti mengejar anda !"
"saya akan berlari sambil berteriak,"Hei, siapa pemilik anjing ini ! tolong, anjingmu mengejarku!" jawab lelaki itu sambil masih tertawa. Sang imam mendadak terdiam. lelaki itu memandang sang imam dengan penuh pertanyaan.
"Yah ! tepat sekali, mas. jika masalah yang kau hadapi itu ibarat anjing. Maka, anda harus berlari kepada pemilik masalah," kata sang imam
"ALLAH ?" tanya si lelaki. sang imam hanya menganggukan kepala.

Renungan :
kehidupan rumah tangga tidak bisa lepas dari permasalah. kita lebih susah membayangkan bahwa kehidupan keluarga kita akan bertabur bunga sepanjang harinya.pada setiap lipatan hidup kita, pastilah akan dijumpai permasalahan. Setiap lautan yang diarungi oleh sebuah kapal, tidak selalu tenang airnya. saat saat tertentu akan ada gelombang yang menghempaskan. Ada orang yang merasa tersiksa dengan permasalahan yang menimpa keluarga. permasalahan menjadi bara yang meluluhlantakkan jalinan cinta sang kekasih. permasalahan telah berubah menjadi gempa yang meratakan bangunan cinta.
Ada juga orang yang melihat sebaliknya. setiap permasalahan dalam keluarga disikapinya sebagai angin yang menggiring layar perahu ke arah pantai tujuan. ketika permasalahan datang, cara pandangnya telah mengarahkannya untuk memperkukuh kebersamaan dengan sang kekasih. kebersamaan akan mempermudah kita untuk menjadikan permasalahan sebagai energi yang memberikan dorongan menuju kematangan diri dan keluarga.
Kebersamaan menjadikan setiap permasalah menjadi jauh lebih ringan. Disinilah kita menemukan keindahan cinta ; saat kita menghadapi derita secara bersama sama. Ketika Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah puteri Muhammad saw , kehidupan keluarga mereka berada dalam kesederhanaan dan kekurangan. Tapi lihatlah penuturan ikhlas mereka.
"Demi Allah, aku selalu menimba air dari sumur sehingga dadaku terasa sakit." kata Ali bin Abi Thalib kepada Fatimah. saat itu, fatima yang diajak bicara berkomentar ." Dan Aku, demi Allah, memutar penggiling hingga kedua tanganku melepuh."
Sodaraku..... Kebersamaan lahir dari sikap kita memandang masalah. tapi sikat itu lahir dari apa ? ia muncul dari balik bilik kesadaran kehambaan kita. Kesadaran kehambaan pada akhirnya melahirkan ketenangan. Dan inilah modal kita untuk mengurai setiap permasalahn menjadi energi pematangan ; ketenangan.
Dalam hal inilah sodaraku.... kita dapat menemukan pemahaman dari firman Allah :" Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS.Ar-Ra'd ; 28)
itulah sebabnya ketika ditimpa oleh permasalah hidup Nabi Ya'kub a.s segera membangun kesadaran kehambaan." sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (QS.Yusuf ; 86)

Kebersamaan dan ketenangan menjadi karang yang menghadang gulungan gelombang yang menerjang. menghadapi masalah dengan sudut pandang positif akan lebih mematangkan jalinan cinta dan mendewasakan kita dalam bersikap. seseorang sering memesankan kepada saya ," Anda bisa mengeluh karena mawar berduri, atau berbahagia dan takjub karena duri berbunga mawar ...... "

Wallahu'alam.... semoga Allah mengampuni saya jika karena pengetahuan saya yang kurang luas sehingga saya menulis, berbuat dan berbicara salah.