Sabtu, Agustus 23, 2008

TAK SEKEDAR CINTA


Tak sekedar dengan cinta kita menjalani pernik pernik kehidupan rumah tangga. kita membutuhkan penyokong lain, yaitu iman dan ketakwaan. Cinta akan memberikan warna lebih indah terhadap kehidupan keluarga, sementara uman dan ketakwaan meneguhkannya hingga kokoh. keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh para kekasih akan melahirkan sikap tanggung jawab.
Tanggung jawab akan memerankan tugas utamanya ketika sepasang kekasih berada dalam tarik ulur yang kuat antar cinta dan benci. saat itulah para kekasih membutuhkan mata air iman.keimanan mematangkan mentalitas seseorang. ia tidak memandang bahwa pernikahan sekedar urusan cinta dan benci. lebih dari sekedar itu, ia memiliki kesadaran bahwa ada tanggung jawab yang harus ditegakkan. kesadaran ini tidak berarti bahwa kehidupan pernikahan didayung secara mekanik. itulah sebabnya, antara cinta dan iman harus berjalan saling berkelindan.
Dalam persoalan inilah kita dapat memahami jawab Al-Hasan Al-Bashri , ketika ia ditanya oleh seseorang :" ada dua orang yang melamar putriku, siapa yang harus aku terima ?"
"Terimalah yang paling baik agamanya, karena jika ia cinta kepada istrinya, pasti ia akan merawat dan menghormatinya; sedangkan jika ia benci kepada istrinya, ia tidak akan menganiayanya."
Begitulah iman dan takwa melahirkan tanggung jawab. keimanan menjadi benteng paling kokoh agar kebencian terhadap istri, karena sebab tertentu, berubah menjadi kerja pengembangan. kerja pengembangan akan mengurangi dorongan untuk berharap diluar kesanggupan istri, yang jika tidak terkendali akan menyisakan kekecewaan berkepanjangan.
Selain kerja pengembangan, sesungguhnya iman dan takwa akan membentengi diri kita dengan kesabaran. kesabaran adalah daya tahan kita untuk mengokohkan cinta dari gempuran gelombang kehidupan dan ketidakterimaan kita kepadanya." Bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak senang terhadap mereka, padahal Allah menjadikan dibalik itu kebajikan yang banyak." (QS. 4;19) begitupula ketika kita memahami firman Allah ta'ala :" Mungkin saja engkau membenci sesuatu padahal ia lebih baik bagimu." (QS. 2 ;216)
hmmm...... jadi teringat dengan satu kisah. Imam Ibnu Jauzy dalam bukunya Shaidul Khathir pernah menceritakan kisah Abu Utsman an-Naisaburi yang ditanya oleh seseorang, pertanyaan menggelitik tentang harapan Abu Utsman :" Apa yang paling anda harapkan dari amal anda ? " Abu Utsman terdiam beberapa saat. lalau ia mulai bertutur.
"Pada saat aku masih muda, keluargaku berusaha menikahkanku. Akan tetapi aku tidak bersedia. suatu saat ada seorang wanita yang datang kepadaku dan berkata :" Wahai Abu Utsman, sungguh aku sangat mencintaimu. Sudilah kiranya engkau menikahiku." wanita itu menghadirkan ayahnya yang sangat miskin. Akupun dinikahkan dengan wanita itu. Nah, ketika aku berkumpul dengannya dalam satu kamar, ternyata ia pincang dan sangat buruk."
"karena kecintaannya kepadaku," Kata Abu Utsman melanjutkan, " Ia melarangku keluar rumah. Aku terpaksa duduk didalam rumah untuk menjaga hatinya. Aku sama sekali tidak menampakkan kemarahan kepadanya, padahal aku seperti diatas bara. sungguh. Demikianlah kejadian itu berlangsung selama lima belas tahun hingga ia meninggal."
Begitulah ketika takwa menghiasi kehidupan keluarga. kebencian yang membara terpinggirkan oleh sabar dan tanggung jawab terhadap janji. Bahasa Takwa itu terpancar dari ungkapan Abu Utsman," tidak ada amal yang kuharapkan, kecuali menjaga hatinya agar tidak terluka." ......
Sabar dan tanggung jawab yang melekat dalam diri karena takwa, membersamai cinta ketika kita menyemai kebersamaan bersama kekasih. inilah yang menjadi pertimbangan Umar bin Khathab ketika salah seorang laki laki datang kepadanya. Ia datang, dengan keluhan tentang istrinya. Lelaki itu mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya telah memudar. oleh karena itu, ia bermaksud menceraikannya.
"Sungguh jelek niatmu." kata Umar. " Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta ? dimana takwamu dan janjimu kepada Allah ? dimana rasa malumu kepada-Nya ? bukankah kamu sebagai sepasang suami-istri, telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat ?"
menjaga ketakwaan dalam diri ternyata menjadi investasi untuk mempertahankan cinta, merawat an menumbuhkannya. Taman ketakwaan harus senantiasa dihidupkan dalam sanubari keluarga. Langkah paling umum yang biasa dilakukan adalah dengan menggiatkan beribadah kepada Allah ta'ala.
Keluarga dengan taman ketakwaan kering, biasanya terlalu rapuh untuk menghadapi permasalahan hidup. Sekecil apapun ia, jika ia dihadapi tanpa perisai takwa, permasalahan itu seakan sebagai karang yang teramat besar dan kokoh. kebencian, kemarahan, emosi yang meledak, kecurigaan yang berlebihan, dan karakter karakter lain akan cepat mendominasi kita, jika takwa tidak melekat dalam diri. Ketika karakter - karakter itu lebih dominan daripada iman, kondisi itu menjadi pertanda dini keretakan keluarga.

(Subhanallah.... membaca sedikit dari kisah Abu Utsman tersebut.... menggetarkan hati ini. bisakah kita seperti beliau ? wahai para suami... bisakah kalian seperti itu ? disaat kalian melihat kekurangan istri kalian, kalian sabar dan ridha terhadap kekurangan itu ? membantunya untuk melihat sisi lebih seorang istri yang dapat membuat bangga suami ? bukan malah menghinanya atau bahkan meninggalkannya karena kekurangannya...... juga para istri bisakah kita bersikap sabar dalam menghadapi kekurangan suami.... ? mendukung jihadnya ketika keletihan itu mendera... menyemangatinya ketika merasa diri lemah dan tak berharga..... wahai mujahid dan mujahidah Allah.... jadikanlah sabar dan ikhlas , iman dan takwa sebagai senjata utama kita menghadapi segala kekurangan dan kelebihan pasangan kita menuju pada ridha Allah)... insya Allah.....

Kata - kata Umar seakan menggema kembali . " APAKAH SEMUA RUMAH TANGGA (HANYA DAPAT) TERBINA DENGAN CINTA ? DIMANA TAKWAMU DAN JANJIMU KEPADA ALLAH ?"

hmmmm..... ya kita emank harus segera berbenah.............



Tidak ada komentar: